Rabu, 26 Februari 2014

[Short Story] The Wisdom I Ask....


Dia berjalan menyusuri lorong-lorong istana. Tiang-tiang yang menjulang tinggi memberi kesan angker pada dirinya yang masih kecil. Digenggamnya tangan sang ayah dengan erat.

"Ayah, kita akan kemana?" Tanya anak kecil itu dengan takut.

Sang ayah menoleh, seorang pria dengan jenggot tebal menutupi dagu dan pipinya. Matanya menatap penuh kasih sayang pada putra yang sangat dicintainya. Sebuah mahkota emas dengan permata-permata indah terpasang di atas sebuah rambut ikal coklat.

"Kita akan menemui rakyat, anakku." Jawab Sang Ayah seraya tersenyum.

Terdengar pintu terbuka dan sebuah sinar menyeruak masuk. Anak kecil itu menutup matanya karena silau. Ketika perlahan-lahan matanya terbiasa, dia melihat jutaan rakyat berdiri bawah balkon istana dengan sorakan penuh kekaguman dan rasa cinta pada sang Raja.

"Anakku, suatu ketika kamu yang akan memimpin mereka...." Ucapan Sang Ayah menggema kuat diantara gempita sorak sorai.

*

Seorang pemuda berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar Raja. Rambutnya yang coklat kusut karena sudah berkali-kali diacak oleh tangannya sendiri. Wajahnya menunjukkan raut khawatir. Berkali-kali dia menoleh ke arah pintu berharap bahwa pintu tersebut terbuka. 

Beberapa menit kemudian harapannya terkabul. Pintu ganda berukiran emas tersebut membuka, seorang tabib tua keluar dengan raut wajah sedih.

"Yang Mulia, Ayah anda ingin berbicara dengan anda." Ucap Sang Tabib seraya menunduk memberi hormat.

Pemuda tersebut hanya mengangguk singkat membalas penghormatan tersebut. Dia langsung melangkah dengan langkah lebar memasuki kamar. Begitu ia tiba di dalam, dia terdiam sejenak. Hatinya tiba-tiba digelauti rasa sedih yang amat sangat. Dia berjalan perlahan menuju tempat tidur mewah berkelambu ungu. Di atas tempat tidur, terbaring ayahnya. Seorang yang dulu begitu gagah kini tak berdaya. Dia masih ingat betapa tampan ayahnya dulu, dengan rambut kecoklatan dan jubah kebesaran dengan sulaman emas, seorang Raja yang berwibawa, membawa kemenangan kemanapun pasukannya berperang. Dilihatnya rambut ayahnya yang sudah berubah warna menjadi keperakan, garis-garis usia mengaburkan sisa-sisa kemudaan.

"Anakku...." Ucap pria tua itu lirih.

Sang pemuda duduk di samping ranjang, mendekatkan dirinya agar dapat mendengar suara parau yang lemah. Para pelayan bergerak mundur, memberi ruang pada ayah dan anak tersebut.

"Aku sini akan menempuh jalan segala yang fana, maka kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki." Sang Raja tua itu berhenti sejenak, mengambil napas. "Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya...."

Raja tua itu kembali berhenti. Dia terengah-engah, napasnya pendek dan sering.

"Ayah...." Balas sang Anak dengan memohon. "Anakmu ini masih muda.... Aku...belum siap memimpin kerajaan sebesar ini sendirian...."

Dengan tangan gemetar dan dengan seluruh sisa kekuatannya, Sang Raja tua mengangkat tangannya. Sang anak langsung menggenggam tangan yang ringkih tersebut.

"Jangan bersandar pada kekuatanmu, nak...." Ucap orang tua itu dengan lirih. "Ingatlah akan Tuhan, Allahmu...."

Raja itu tersenyum lemah, perlahan matanya tertutup dan dengan sebuah kedamaian, dia menghembuskan nafas terakhirnya. Kehidupan meninggalkan tubuh tua itu.

"AYAAAAH!!!"

*

Pemuda tersebut terduduk di kamarnya yang terasa asing.... Pemakaman ayahnya sudah berlalu lama. Para peratap sudah kembali ke rumah mereka masing-masing tapi dia tetap saja tidak bisa menikmati jabatannya sebagai raja. Hatinya gentar memikirkan tanggung jawab yang tiba-tiba jatuh di pundaknya. Dia bukan memimpin sembarang rakyat, mereka bukan miliknya yang bisa dia perintah sesuka hati. Mereka adalah milik kepunyaan Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah pencipta semesta. Dia tak lebih dari wakilNya untuk membawa mereka menaati semua perintahNya. Betapa ayahnya senantiasa mengingatkannya ketika beliau masih hidup.

Lampu dian menyala redup tak sanggup menerangi seluruh kamar tapi anak muda itu tidak berniat untuk menambah jumlah cahaya. Dia menyukai kegelapan yang membungkusnya sementara dia memanjatkan doanya lamat-lamat. Kini dia hanya bisa sepenuhnya bergantung kepada Sang Pemberi Amanat. Pemuda itu terus berdoa dan berdoa, berbisik pelan pada Tuhan yang selama ini dia kenal sampai dia berada di ambang kesadarannya....

"Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu."

Sebuah suara menggema pelan. Suara yang berwibawa namun juga lembut. Dia langsung terjaga tapi bahkan ketika dia membuka mata, dia tidak bisa melihat apapun. Sebuah cahaya yang menyilaukan membuat sekelilingnya putih. Pemuda tersebut langsung tersungkur ke tanah. Dia tahu siapa yang berbicara....

Hatinya bergejolak. Allah menjawab doanya! Kini Sang Pencipta bertanya apa yang diinginkan olehnya....

Dia terdiam. Apa yang bisa membantunya memimpin bangsanya? 

Dia tetap berlutut. Ketika dia mengucapkan permintaannya, hatinya bergetar dengan perasaan tak berdaya. Dia tidak sanggup memerintah sendirian...tanpa bantuan dari Sang Raja Agung....

"Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya. Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?"

Pemuda itu mengucapkan permintaannya dengan suara yang lirih. Siapa dia hingga sanggup mengangkat suaranya pada Allah Semesta....

Sunyi sesaat.... Jantung pemuda berdegup kencang. Apakah Allah mendengarkan permintannya?

"Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu," suara itu kembali bergema, "melainkan pengertian untuk memutuskan hukum,maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau. Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorangpun seperti engkau di antara raja-raja."

.......

....

Perlahan-lahan, sinar itu menghilang. Pemuda itu mulai berani membuka matanya dan dia sudah berada di kamarnya. Matahari mengintip dibalik celah bukit. Dia bertanya-tanya apakah hal yang barusan dia alami itu nyata....

Dia berdiri dan berjalan menuju jendela, sejauh mata memandang, itulah seluruh wilayah kekuasaannya. Padang rumput, gunung dan bukit yang menjulang, tanah perjanjian....

Hari ini, ketika dia memandang semua itu, ada yang berbeda dalam hatinya. Damai sejahtera turun bagaikan embun dari gunung Hermon menyegarkan benaknya. Dia tahu dia akan sanggup melakukan tugasnya dengan baik. Bukan karena dirinya tapi karena Allah yang disembahnya....

Untuk pertama kalinya sejah ayahnya meninggal, raja muda itu tersenyum....

__________________________________________________________

Aloha! Happy Valentine! Better late than never right :D hahahha~

Akhirnya cerita ini keluar dari draftnya hahahah~ Sempat ingin berhenti dan kubiarkan menjadi draft selamanya tapi toh puji Tuhan bisa kelar heheheh~

Where God guides, He provides :)


Read More

Senin, 27 Januari 2014

[Short Story] Secret Room



Ting tong!!!

....

Ting Tong.....

Suara bel pintu terdengar sayup ditelingaku, membuatku berhenti dari hal yang sedang kulakukan. Aku melirik partnerku yang mengangguk, memberi persetujuan bagiku untuk menyambut tamu.
Read More

Kamis, 26 Desember 2013

[Short Story] Christmas Night



"Pelakunya adalah kakak korban." Ucap Terra pada mikrofon yang tertanam pada kacamata hitamnya. "Sampaikan pada Rheona dan Robert untuk segera menangkapnya."

"Got it." Balas Chris di ujung sambungan.

"Selamat hari Natal." Ucap Terra sebelum Chris menutup saluran komunikasi.

Sebuah kesunyian menggantung sesaat, dengan canggung Chris menjawab, "Selamat Natal juga."

Sambungan terputus.

Terra melepaskan googlenya dan meletakkannya di meja kecil samping tempat tidurnya. Dia menatap sekeliling, Kamar itu putih, kosong dan dingin, hanya berisi perlengkapan penunjang hidup dan alat-alat pengukur ini itu. Satu-satunya warna di kamar itu adalah pohon natal mini dari plastik yang diberikan Chelios kemarin. Terra menghela napas berat. Seperti biasa, hari natal pun akan dia habiskan di dalam kamar perawatannya. Sudah dua tahun terakhir ini tubuhnya tidak mengizinkannya untuk menikmati natal di luar . Dia hanya akan keluar bila itu berhubungan dengan pekerjaan. Arthur tidak mau mengambil resiko apapun bila berhubungan dengan kesehatannya. Yah, Terra menghibur diri, setidaknya dia akan melaluinya bersama orang-orang terdekatnya tapi....

Ayahnya akan sibuk menangkap pembunuh. Chelios sedang sibuk dengan kafe barunya dimana hari Natal seperti ini pasti sedang sangat ramai. Terra terus menghitung orang-orang terdekatnya. Masih ada Arthur....

"Ping!"

Terra melihat pesan yang masuk di ponselnya.

"Aku masih harus melihat hasil penelitian.... Segera kesana."

Terra memandang pesan singkat itu dengan datar sebelum meletakkan ponselnya kembali ke meja. Dia melihat jam, sudah pukul sepuluh malam. Sepertinya tahun ini dia akan sendiri di hari natal.... Gadis itu menghela napas panjang seraya menatap ke luar jendela. Sayup-sayup terdengar lagu-lagu natal yang bergema di langit Heroes City. Pandangan matanya teralih pada beberapa potong kado yang sudah dia siapkan. Barang-barang tersebut akan diserahkan setelah Natal. Terra menghela napas lagi dan kembali menatap ke luar. Salju perlahan-lahan turun dengan lembut. Terra menatap langit, tiba-tiba sebuah rasa syukur hadir dalam hatinya. Dia tersenyum, setidaknya dia masih hidup untuk menikmati natal satu kali lagi.... Tidak ada hal yang perlu disesali jika dia masih punya kesempatan untuk bersama orang-orang yang dia kasihi sedikit lebih lama walaupun bukan hari ini....

"Knock-knock."

"Masuk." Ucap Terra seraya bertanya-tanya siapa yang datang.

Pintu terbuka, muncul seorang pria berumur dua puluhan dengan rambut pendek berantakan dicat putih.

"Chris?" Sapa Terra setengah tidak percaya. Chris nyaris tidak pernah keluar dari ruangan komputernya. IT dari HCPD itu lebih suka bergaul dengan CPU dan monitor daripada dengan manusia.

"Hello Terra!" Seru seorang lain dari belakang Chris.

Terra akhirnya tahu siapa yang berhasil memaksa Chris keluar. Pria tersebut berjalan mendahului Chris dan berdiri di samping tempat tidur Terra. Otak dibalik semua penemuan kepolisian. Seorang pria berumur tiga puluhan dengan rambut hitam dibelah tengah dan sebuah monocle yang juga berfungsi sebagai kaca pembesar.

"Selamat Natal!" Seru Hardy seraya mengambil tangan Terra untuk disalami dengan penuh semangat. "Chris merasa kesepian, jadi kubawa sekalian disini." Tambahnya riang yang dibalas dengan decakan kesal dari rekannya.

"Tidak biasanya kalian kemari...." Balas Terra seraya menerima bungkusan makanan dari mereka.

"Yah, hanya sedikit penghuni kantor polisi di hari natal. Jadi mengapa para penghuni tetap tempat ini tidak berkumpul?" Jawab Hardy asal. "Jadi...apa yang bisa kulakukan disini...."

"Arthur tidak suka barang-barangnya disentuh...." Terra memperingatkan ketika Hardy dengan mulai memandang alat-alat yang ada diruangan itu dengan tatapan jahil.

"Ah, paling dia mengomel...." Balas Hardy seraya mulai mengeluarkan obeng dan mulai melepas mur-mur yang terpasang sambil bersiul kecil.

"Aku mendengar itu, Hardy!" Seru Arthur dari pintu yang tidak ditutup oleh Hardy, dia terlihat kehabisan napas, pasti dia berlari di sepanjang lorong. Wajahnya tampak kesal. "Aku buru-buru kemari hanya untuk melihat perlengkapan berharga ratusan ribu dollar dihancurkan. Apa yang kamu lakukan disini, heh?!"

"Jangan terlalu membesar-besarkan. Kamu sedang berbicara dengan kepala departemen riset HCPD, aku tersinggung kalau kamu meragukan kemampuanku." Balas Hardy berpura-pura kesal sementara Arthur merebut obeng dari tangannya.

"Apanya?! Terakhir kamu membongkar CT-Scan di ruang kesehatan, kamu sama sekali tidak memasangnya kembali!"

Terra memandang mereka debat kusir. Hardy tampak senang menganggu Arthur dan terus-menerus memancing kemarahan dokter tersebut. Ketenangan di kamar tersebut lenyap tapi Terra mendapati dirinya tersenyum tipis. Sudah lama sekali sejak dirinya dilingkupi keramaian seperti ini....

"Ada apa ini?" Tanya Chelios yang baru saja masuk sambil membawa sebotol sari buah yang diberi pita dan dua gelas wine. Dia memandangi Arthur dan Hardy yang masih saja bertukar sindiran.

"Bagaimana dengan kafemu?" Tanya Terra tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

"Well, I'm glad I can make it." Jawabnya seraya mengedipkan matanya. "Kafeku sudah kututup, para pegawaiku juga butuh natal mereka." Lanjutnya seraya meminta Terra memegang kedua gelas tersebut sementara dia membuka dan menuangkan isi botol ke gelas. "Aku ingin membeli wine tapi Arthur melarangmu untuk minum alkohol dan..." dia memandang sekeliling, "kurasa aku harus mengubur impianku untuk menikmati natal hanya berdua...." Gerutunya seraya meneguk isi gelas.

Terra baru saja menyodorkan gelas kepada Chris ketika pintu kembali terbuka. Sesaat Terra tidak mempercayai penglihatannya namun Robert memang berdiri di ambang pintu dengan jaket yang dipenuhi salju ditangannya. Dibelakangnya ada Rheona, Harold dan Derick. Arthur dan Hardy langsung berhenti berdebat ketika melihat Robert berjalan masuk.

"Boss...bagaimana dengan kasusnya?" Tanya Terra ketika Robert mendekatinya.

"Pelaku sudah diamankan." Balas Robert. "Kerja bagus telah mengidentifikasi pelakunya."

Terra mengangguk lalu dia mengambil kado paling atas dan memberikannya pada Robert, "Selamat hari Natal...Ayah."

Robert menerima hadiah itu dengan canggung, "Terima kasih. Selamat hari Natal...."

Robert terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia hanya membolak-balik kotak persegi kecil itu. Suasana kamar itu menjadi canggung.

"Kurasa kita perlu lebih banyak gelas." Ucap Chelios menyelamatkan Robert. "Derick, bisa tolong ambilkan di bawah?"

"Beres." Balas pria muda tersebut.

"Biar kutemani." Tambah Rheona.

Chelios mengajak bicara Hardy. Sementara Arthur memeriksa perlengkapan medisnya, takut kalau-kalau Hardy sudah menyentuh salah satunya. Chris tetap duduk di pojok ruangan, mengeluarkan laptop dan kembali tenggelam dalam dunianya. Robert membuka kado dari Terra. Terra memandang setiap kejadian yang terjadi di dalam kamarnya yang biasanya sunyi. Jika tadi dia bersyukur masih dapat hidup di natal tahun ini, Tuhan juga memberikannya teman-teman dan keluarga untuk bersamanya di hari Natal....

Terra tersenyum lebar, dia sudah mendapatkan yang terbaik di hari ini....

_______________________________________________________

Merry Christmas! Maaf kalau agak terlambat beberapa menit hahahah~ Akhirnya aku post sesuatu di blog ini.... Well, akhir-akhir ini aku lebih banyak menggambar daripada menulis hahahah~ sedang berusaha mengumpulkan mood untuk menulis =.=

BTW, di natal tahun ini aku diingatkan betapa besar kasih Tuhan kepada manusia...dan sekali lagi aku terkagum padaNya.... //klepek-klepek//

Aku berusaha untuk menampilkan banyak karakter sekaligus di cerita ini.... Berhasil atau tidak...well, aku tunggu komennya hahahah~

Click here to read another story of S.U.R.F.


Robert - Rheona - Arthur - Harold - Chris - Chelios - Derick - Terra - Hardy - Judith

Read More

Minggu, 24 November 2013

Ever Ready


Hai-hai, untunglah bulan ini bisa ngepost lebih dari dua hahahah~ Dan kali ini kita akan bicara tentang merk baterai selalu siap sedia.

Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. 2 Timotius 4: 2
Ayat di atas adalah salah satu ayat yang selalu mengingatkan aku untuk berjaga-jaga :D hahahah~ Karena kita ga pernah tahu kapan Tuhan mengirimkan orang untuk kita beritakan kabar baik :D oke, aku akan coba bahas ayat ini dalam konteks yang sedikit lebih luas.

Pernah ga, ada seseorang datang kepada kita dan bercerita tentang keluhannya, mereka ingin mendapatkan saran namun karena kita tidak sedang dalam kondisi hati yang baik, saran yang kita keluarkan akhirnya tidak maksimal. Mendal atau bahkan berbalik menjadi tuduhan bagi kita? :D

Atau ada kejadian dimana seseorang butuh kelepasan di depan kita tapi kita tidak berani mendoakan karena beberapa saat sebelumnya kita jatuh dalam dosa.

Bicara tentang kesiapan, ada banyak hal yang mempengaruhinya namun seperti kata Firman Tuhan kita harus senantiasa siap memberitakan Injil apakah itu saat kita berkotbah di atas mimbar, mengajak teman kita ke Gereja, mendengar seseorang membagikan masalahnya, saat pelayanan lagi penuh-penuhnya atau sedang dibawah todongan senjata. Yang terakhir itu agak ekstrim sih, tapi itu termasuk salah satu contoh dari keadaan 'tidak baik' :) Lalu apa yang bisa kita siapkan agar kita senantiasa sigap memberitakan Injil? Menurutku sih dibagi 3 :) stamina rohani, stamina jiwa dan stamina fisik. Ps: Ini juga berguna bagi yang jadwalnya sibuk :D hehehe~ entah pelayanan atau pekerjaan atau hal lain :) Jaga terus ketiga hal ini ;)

Oke yang pertama adalah stamina rohani. Menurutku ini yang paling penting dari semua stamina :D soalnya tanpa ini semua hal yang kita lakukan hanya akan menjadi rutinitas dan tidak memiliki dampak yang besar. Misalnya berdampak sekalipun itu hanya karena sisa-sisa kasih karunia dan urapan kemarin :( celakanya ini adalah stamina yang paling sering kita korbankan kalau kita sudah sibuk. Berapa sering kita ga sate karena kita sudah tepar? Aku pernah beberapa kali mengalaminya dan itu sangat-sangat tidak menyenangkan, pelayanan dan pekerjaan yang harusnya menjadi berkat berubah jadi beban. Puji Tuhan, Tuhan baeeek banget, dicubitlah saya supaya bertobat :D hahahah~ Tanda-tanda dari turunnya stamina rohani adalah hati yang mulai tidak tenang :) gampang marah, emosian dll. Kalau dibiarkan bisa berujung pada kematian rohani, serem kan? Cara mempertahankan stamina yang satu ini gampang sih, tetap ambil waktu pribadi dengan Tuhan :) gimanapun caranya! Mau nyuri2 waktu atau mempertahankan jam-jam saat teduh, ubah jadwal sate, dengerin lebih banyak lagu rohani, kotbah, terserah! Pokoknya roh kita harus tetap dapat makan :D Minta selalu Tuhan memberi hati yang haus dan lapar akan Dia :) sebelum kita bisa melayani orang lain, kita perlu dilayani oleh Tuhan terlebih dahulu :D supaya apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita akan terus mendekat padaNya walaupun harus merangkak sekalipun :D heheheh~ Ingat, hanya Roh Kudus yang sanggup mengubah hati orang dan keselamatan adalah karyaNya bukan karya kita :) sebelum kita memberitakan Injil pastikan diri kita dipenuhi olehNya :D

Yang kedua adalah stamina jiwa :D oke, seperti yang sering aku bilang buat diriku sendiri, kita harus tetap waras untuk bisa melakukan hal-hal yang Tuhan percayakan pada kita. Iya dong, kalau kita ga bisa atur pikiran kita, kita tidak akan bisa maksimal memberitakan Injil. Contoh, pas orang sharing, pikiran kita kemana-mana mikirin ini itu, stress, akhirnya tidak bisa memberitakan Yesus pada orang tersebut padahal Tuhan yang sanggup menyelesaikan masalahnya :) so, kalau pikiran kita mulai capek, ambil waktu untuk istirahat. Bisa dengan jalan-jalan, waktu berkualitas dengan orang terdekat atau bisa juga dengan waktu untuk berdiam diri (buat orang introvert :3 hahahahah~) Pikiran yang penuh tidak membawa kita ke mana-mana :) jangan dipaksa atau kita tidak akan bisa maksimal. Ingat, kita tidak bisa melayani orang dengan pikiran yang kacau. 

Yang terakhir adalah stamina fisik. Yep! Walaupun kita harus menyalibkan daging, tetap ingat bahwa kita masih hidup didalamnya :D hahahaha~ Dengarkan tubuhmu bila dia berteriak kelelahan :) tidur cukup, makan makanan yang bergizi dan mengkonsumsi vitamin bila perlu. Aku pernah melalaikan yang satu ini sampai dalam setahun aku kena tipes dua kali. Sejak saat itu aku bertobat hahahah~ Mulai tidur teratur sampai jaga makan. Kalau sudah tidak kuat, tidak kupaksa :) Puji Tuhan tahun ini aku lalui tanpa sakit parah :D hehehehe~ Alhasil aku bisa lebih efektif melakukan hal-hal yang Tuhan taruh dalam hidupku dan ketika Tuhan memintaku untuk menemui seseorang dan membagikan kasih Tuhan, aku dalam kondisi prima :D heheheh~

Sekian dulu deh ocehanku kali ini :D semoga bisa menginspirasi untuk bisa memberi yang lebih baik lagi dan menjadi alat Tuhan yang efektif :) biar lah kita menjadi pemberita Injil kapanpun Tuhan mengutus kita. Be Ever Ready!
Read More

Sabtu, 16 November 2013

Come, Stay or Go

People Come, People Go, but You always stay...

Dalam perjalanan kita bersama Tuhan kita akan sering sekali dihadapkan dengan kenyataan bahwa ada orang-orang yang datang, ada yang tinggal selama beberapa waktu dengan kita dan ada yang pergi, untuk kebaikan atau justru karena undur dari Tuhan....

Tidak ada yang melebihi kegembiraan saat melihat satu jiwa diselamatkan tapi juga tidak ada yang melebihi kesedihan saat seseorang menjauh dari Tuhan apalagi bila dia memilih untuk melepas imannya dan aku belajar untuk menghadapi hal tersebut.

Sepanjang perjalananku mengikuti Dia, aku banyak sekali perjumpaan dan beberapa kali perpisahan. Aku masih ingat kakak rohani yang mati-matian mendoakan dan membimbingku, dia akhirnya memutuskan untuk melayani di Ibadah Umum bersama dengan suaminya. Aku juga masih ingat dengan anak rohani pertamaku, saat ini aku sudah lost contact dengannya tapi dalam hatiku, aku selalu berharap bertemu dengannya dan terus berdoa agar dia tetap berjalan teguh dalam imannya. Beberapa rekan yang bertumbuh bersamaku kini telah Tuhan tempatkan di ladang yang berbeda. Ada yang memutuskan untuk menjadi pekerja penuh waktu di gereja, ada pula yang diutus ke luar kota. Ketika aku melihat mereka, aku sadar bahwa perubahan adalah bagian dari hidup kita. Masa-masa saat kami bersama tidak akan bisa terulang, mereka berubah, aku juga berubah. Seperti memandang dari balik kaca transparan. Jelas namun juga terbatas. Saat berpisah tanpa tahu kapan akan bertemu, aku selalu membawa sebuah harap, kami pasti akan bertemu lagi dalam kekekalan, saat kami menyentuh garis akhir pertandingan kami. Sebuah harapan yang menghapus air mata dan menggantikannya dengan sebuah senyum damai.

Selalu juga kuingat orang-orang yang Tuhan tempatkan untuk bersamaku sekarang. Aku tahu suatu ketika kami tak lagi bersama dan aku berdoa, jika kami harus berpisah, biarlah perpisahan itu karena mereka dipakai Tuhan dengan lebih besar lagi :) dan tanpa penyesalan karena aku tidak melakukan yang terbaik bagi mereka selama mereka Tuhan letakkan didekatku :) teman-teman sepelayanan, anak-anak rohani, kalian berharga bagiku. Juga bagi para mentor dan senior yang telah berjalan di depan ku menjadi teladan, terima kasih karena mau berjalan dua mil :)

Dan bagi mereka yang belum bertemu denganku, aku sangat menantikan pertemuan kami :D dan aku harap pertemuan itu memberi dampak bukan hanya di dunia ini tapi juga di kekekalan :)

Pada akhirnya, saat aku terdiam, aku menyadari Seseorang yang selalu tinggal bersamaku, di setiap musim hidupku, di setiap kelokan perjalananku. Dialah yang selalu menyertaiku saat aku berjumpa dengan orang dan tetap tinggal saat mereka harus pergi. Terima kasih Tuhan Yesus :)

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun  dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita - Ibrani 12:1

_______________________________________________________

Ah...lagi galau.... *liat air hujan menetes....
Read More

Kamis, 07 November 2013

Too Much Drama

Pernahkah kita berpikir kalau hidup beberapa orang terlihat sangat sederhana sementara hidup orang lain tampak begitu rumit? :)

Akhir-akhir ini aku sedang berpikir demikian. Aku punya teman yang tetap adem ayem menghadapi masalah dan aku juga punya teman yang rasanya seluruh dunia jatuh menimpanya. Melihat mereka aku jadi ingin ngepost ini :D Mari kita berbicara tentang masalah yang kadang-kadang memicu drama dalam hidup kita hahahah~

Aku belajar beberapa hal:
1. Besarnya masalah jarang mempengaruhi sikap seseorang, biasanya justru sikap kita yang mempengaruhi besarnya masalah :D contoh paling mudah adalah kedua orang yang kusebutkan di atas. Si adem ayem justru memiliki masalah yang jauh lebih besar dari si meratap. Sampai aku heran kok bisa si Adem itu masih tetap bisa adem dalam situasinya. Justru dalam masalah, karakter kita akan terlihat. Apakah kita gampang panik, putus asa atau kita tetap santai dan berpegang pada Tuhan?

2. Masalah menunjukkan berapa besar pengaruh Tuhan dalam hidup kita. Yep, besarnya masalah ditentukan dari besarnya Tuhan dalam hidupmu. Semakin kita melihat kebesaran Tuhan, kita akan melihat bahwa apapun masalah kita, tidak sebanding dengan kemahakuasaan Tuhan. Dari situlah lahir ketenangan, damai sejahtera dan sukacita :) salah satu prinsip yang aku pegang adalah semakin kita mengenal Tuhan, emosi kita akan semakin stabil :) bukan, bukan berarti kita tidak lagi merasa takut, khawatir dsb. tapi kita tahu bagaimana kita harus menghadapi emosi tersebut dengan bijak :D yaitu dengan membawanya kehadapan Tuhan, dengan doa dan ucapan syukur ;)

3. Kebanyakan masalah timbul dari perbuatan kita. Hmm, benarkah demikian? Pernah tidak kita mengalami suatu masalah yang menimbulkan masalah lain? Contoh, kita kekurangan uang, lalu kita panik, dan kita akhirnya meminjam pada seseorang dengan bunga besar atau memutuskan untuk pacaran walaupun calon pasangan kita sangat labil lalu ketika putus, menangis berdarah-darah. Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya? Baca Alkitab, minta bantuan Roh Kudus memberi hikmat. Terdengar klise? Tapi itulah yang kita butuhkan :) kita bukan hanya butuh pengetahuan tapi juga hikmat :D Jika tidak, kita akan terjebak dalam lingkaran masalah yang lebih rumit :( Percayalah, masalah-masalah kita saat ini kebanyakan timbul dari keputusan kita yang salah di masa lalu. Jadi, untuk menghindar dari masalah-masalah di masa depan, ambillah keputusan di masa ini dengan bijak :) jangan terburu-buru, ambil waktu untuk berdoa dan konsultasikan dengan orang-orang yang bisa dipercaya, pemimpin rohani dan orang tua adalah salah duanya :) Sedikit sharing, miris rasanya melihat seseorang yang terjebak dari satu masalah ke masalah lain, hidupnya persis sinetron dengan dia menjadi tokoh utama yang selalu teraniaya -menurutnya-

4. Selama kita hidup, masalah akan selalu ada. Bener nih? Iyalah! Walaupun kita sudah mengambil segala tindakan bijaksana yang bisa kita ambil, masalah akan tetap ada dan biasanya itu datang dari orang lain. Contohnya, kita sudah kerjakan kerjaan kantor kita dengan sempurna, kita ga santai-santai berlebihan, kita sudah menyalibkan daging dan sebagainya tapi...tiba-tiba ada teman satu tim yang mendadak bilang kalo dia ga bisa menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu dan meminta kita membantunya. Masalah? Ya :D hahahah~ Tapi setidaknya bukan karena kita :) kalau itu terjadi, anggap saja itu adalah bagian untuk memproses karakter kita :D mengeluh hanya membuat kita makin sakit hati ;)

5. Menolong orang lain yang mengalami masalah yang sama dapat membuat masalah kita selesai. Berilah maka akan diberi. Yep, daripada kita tercenung meratapi nasib, berdiri dan bantu orang lain :) itu akan membuat diri kita lebih baik dan tidak tenggelam dalam lautan luka dalam~~ *nyanyi* Lebih suprisenya, kita sering mendapati pemecahan dari masalah kita ketika kita membantu orang :D menarik sekali kan? heheheh~  So, kalau kamu mengalami sebuah masalah sekarang, keluar dari kamarmu, cari orang yang memiliki masalah yang sama dan bantu dia :D Bukankah bila kita mengalami hal yang sama, kita bisa lebih mudah berempati ;) gunakan masalahmu menjadi alat untuk membantu orang lain, bukan untuk membunuhmu perlahan :D hahahaha~

Well...kurasa itu saja yang bisa kusampaikan saat ini tentang masalah :D hahahah~ sebenarnya ada banyak yg bisa kita bahas tentang yang satu ini :3 tapi udahan dulu heheheh~ bakal kulanjutkan kalau nemu inspirasi baru hahahah~ Jangan biarkan kita dikendalikan oleh masalah :) sudah cukup drama dalam hidup kita tanpa perlu kita menambahnya dengan sikap kita atau dengan keputusan kita :D hahahah~

Hmm, aku merasa agak random dengan postingan yg satu ini...tapi setidaknya aku sudah berusaha mendobrak write blockku hahahah~ *ketika menyadari bulan ini sudah bulan November dan aku belum menulis apapun.... orz

Ps: gambar diatas...harusnya menggambarkan tentang drama queen/king yang selalu menganggap masalahnya yang paling besar, but well, sepertinya isi postingan ini berbeda dengan gambarnya hahahah~ *kabur*

Hope this will bless ya!
Read More

Sabtu, 19 Oktober 2013

[Review] Our Love Story


Our Love Story - DM Widjaja & Marcella Flaorenzia
Tebal: 108
Tahun Penerbitan: 2013
Penerbit: Independent

Akhirnya sempat juga menulis sesuatu di blog :D hahahah~ Bulan ini adalah bulan penuh berkat :D dapat banyak berkat dalam bentuk buku *dancing* senang deh :3 satu per satu akan ku review sebagai rasa terima kasih heheheh~

Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

© Everything But Ordinary, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena