Everything But Ordinary

Selasa, 01 April 2014

[Tags] -Not- So Humble

Ini adalah postingan bersama dengan tema 'rendah hati' yang diadakan oleh OLCI ;) penasaran apa itu OLCI? Bisa klik di sini

Oke! Kita ngomong soal rendah hati.... Aku agak bingung mau bahas tentang apa hahahah~ secara aku sendiri masih belajar dalam area ini :D Dicoba dulu sajalah!

1. Sering kali kita sulit membedakan antara rendah hati dengan rendah diri. Kadang kita (baca: aku) bingung, sejauh mana kita merendahkan hati? Apa sampai kita ga ada harganya? Hmm...rasanya tidak juga. Salah satu yang memberiku pencerahan dalam hal ini adalah kotbah dari Ps. Jeffrey Rachmat. Beliau mengambil ayat dari Bilangan 12: 3 "Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya,  lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi." Waktu itu Ps. Jeffrey berkomentar bahwa kitab Bilangan ditulis oleh Musa, dan Musa berani menuliskan bahwa dirinya adalah orang yang sangat lembut hatinya. Itu berarti bahwa Musa tahu siapa dirinya. Orang yang rendah hati itu bukan orang yang tidak punya harga diri, tapi adalah orang yang mengerti siapa dia dihadapan Allah :) Contoh berikutnya adalah Yesus. Tuhan Yesus adalah Allah yang menjadi manusia demi menebus dosa manusia. Apakah Beliau tahu kedudukannya sebagai Allah? Ya! Tapi Beliau mau merendahkan diriNya untuk disiksa, dihina sedemikian rupa sampai mati di kayu salib :) Kurasa itu adalah makna kerendahan hati yang sebenarnya :D 

Kita merendahkan diri bukan karena kita tidak berharga tapi kita tahu bahwa diri kita berharga dan kita bersedia menyerahkan diri kita untuk hal-hal yang kita anggap berharga. Bingung? Sama hahahah~ Coba kita ambil contoh kasus Tuhan Yesus, apakah Tuhan tahu dirinya berharga? Ya! Tapi Beliau bersedia menukarkan diriNya bagi kita yang Beliau anggap lebih berharga dari hidupNya (Aku mau nangis waktu ngetik ini, Kita yang bukan siapa-siapa, dianggap begitu berharga). Begitu pula dengan hidup kita, kita merendahkan hati kita bukan karena kita tidak layak dihargai. Kita layak dihargai karena darah Kristus yang menebus kita tiada ternilai, tapi Tuhan juga menantang kita untuk menyerahkan hak kita untuk dihargai demi orang lain yang mungkin belum mengenal Dia, yang membutuhkan kasihNya dan untuk orang-orang yang kita kasihi dalam hidup kita :) Biasanya kita ditantang untuk merendahkan diri saat kita meminta maaf, sering kali, kita memutuskan meminta maaf karena kita menganggap sebuah hubungan lebih penting daripada keegoisan kita :) 

Begitu aku mendapat pencerahan ini, aku merasa aman dalam Tuhan :) Aku tahu aku berharga tapi seperti Kristus yang menganggap kesetaraanNya dengan Allah sebagai sesuatu yang perlu dipertahankan, aku pun akan belajar mengikuti jejak langkahNya :)


Filipi 2: 5-7 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah  itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

2. Setelah definisi tentang rendah hati, kita masuk ke salah satu contoh kasus yang kualami ketika aku belajar tentang rendah hati. Beberapa cerita menarik dari blogger lain bisa dibaca di sini (untuk Blog Mbak Mega) dan di sini (untuk Blog Mbak Lasma). Satu hal yang pelajari adalah marah. Apa sih yang membuat kita marah? Saat pelayan di restoran tidak melayani kita dengan baik? Saat seseorang tidak memenuhi apa yang menjadi keinginan kita? Seringkali kita marah karena kita menganggap diri kita layak mendapat yang lebih baik daripada orang lain, dengan kata lain, kita sudah jatuh kedalam kesombongan. Contoh, saat orang lain melakukan kesalahan, reaksi pertama kita adalah memarahinya karena dia gagal melakukan apa yang menjadi tanggung jawabnya yang berarti merugikan kita. Tapi aku belajar untuk memiliki sikap merendahkan diri dan menganggap bahwa orang tersebut juga memiliki hak yang sama untuk didengarkan :) aku belajar untuk bertanya lebih dahulu apa yang membuatnya gagal. Walau akhirnya kita tetap memberikan dia wejangan (dengan penuh kasih dan cinta tentu saja hahahahah~) kurasa itu akan membuatnya merasa lebih dihargai :) dan membuat daging kita a.k.a ego tetap dalam kendali :D kalo udah kaya gitu biasanya marah kita lebih bisa dikendalikan dan fokus kepada jalan keluar bukan untuk menghancurkan karakter orang :D heheheh~ Aku masih belajar karena masih sering amarahku yg keluar lebih dulu daripada kerendahan hati. Well...itu..tetap belajar XD hahahah~

Kurasa segitu dulu deh pembahasan soal rendah hati kali ini. Maaf kalo agak kurang nyambung karena itu diambil dari pengalaman pribadi sih hahahah~ Have a nice day!

God bless you :D

ps: sistem tags kayak gini berguna buatku yang kadang bingung mau nulis apa lol~ lanjutkan ya OLCI :3

Read More

Senin, 24 Maret 2014

For My Heroine (1)



Atas saran Echa, aku coba untuk menulis orang-orang yang meninggalkan jejak dalam hidupku :3 orang-orang yang menginspirasiku untuk tetap kuat mengikuti Kristus dan berbagai hal besar lainnya hahahah~

Postingan pertama ini aku persembahkan kepada Wenna Sanjaya :D hahahahah~ Mungkin ini agak alay buat kamu wen hahahah~ tapi aku merasa perlu nulis ini. So bear with me okay~

Bagiku wanita ini adalah salah satu dari banyak wanita super yang menginspirasiku :D I'm so blessed with everything she do :) her passion, her principle, her love for God, her power and everything that God does in her life :)

Aku pertama kali ketemu dia sebagai seorang orang tua rohani dari ketua kelompok sel ku. Hohoho~ pertama kali ketemu dia aku tahu kalo dia adalah orang yang berprinsip kuat :D aku memang ga seberapa dekat soalnya aku hanyalah salah satu dari puluhan orang yang digembalakan olehnya. Aku lebih dekat dengan ketua kelompokku :) (kapan-kapan aku akan cerita tentang dia :D) tapi aku udah mengamati dan belajar dari bagaimana dia hidup. Sebagai petobat baru yang ga ngerti apa-apa soal Alkitab, aku lebih banyak belajar dari para pemimpinku :D

Singkat cerita, aku diangkat menjadi seorang wakil dalam kelompok selku. Dari sana aku mendapat lebih banyak kesempatan untuk bertemu Wenna :D dia sangat care dengan anak-anak penggembalaannya. Aku ingat setiap minggu, diluar jam kelompok sel dia akan ajak para ketua sel dan wakilnya untuk pertemuan dan dia memberikan materi pengajaran tentang Alkitab :) bukan hanya itu, dia juga akan memikirkan cara yang kreatif agar setiap anak-anak rohaninya semakin berkembang. Aku masih ingat dulu, salah satu anaknya disuruh membagikan es teh kepada orang-orang lewat hanya karena anak itu sulit mengajak bicara orang yang baru kenal hahahahah~

Kemudian aku harus berpisah dengan Wenna karena aku diangkat menjadi ketua kelompok sel yang bernaung dibawah kepemimpinan orang lain :D pada periode ini aku jarang mendapat kesempatan untuk melihat secara langsung hidupnya :) namun beberapa kali dia memberikan wejangan bagiku yang masih kebingungan memimpin kelompok sel. Salah satunya adalah, "Ga ada namanya mantan anak rohani, sekali anak, tetap anak." Itu saran yang masih kupegang sampai saat ini :) Kalau ga ada namanya mantan anak, berarti juga ga ada mantan ibu kan? That's why, sampai saat ini aku tetap menganggapnya sebagai ibu rohaniku :D heheheheh~ dan keputusanku ga salah, dia tetap menginspirasiku sampai saat ini :)

Kalau dilihat dari hidupnya, Wenna adalah seorang pejuang yang sangat tangguh! Beberapa kali dia sempat share tentang kehidupannya yang ternyata penuh tantangan dan permasalahan. Mulai dari studi, keluarga, pekerjaan, penggembalaan, pelayanan dan sebagainya tapi satu hal yang sangat memberkatiku adalah bagaimana dia tetap menguatkan kepercayaannya pada Tuhan dan tetap berjalan dalam panggilan hidupnya. AMAZING! Dalam kelemahannya kuasa Allah nyata terlihat. Justru di masa-masa sulitnya, dia menghasilkan buah paling manis :) salah satu hal yang sedang dia alami adalah ketika dia divonis mengidap penyakit langka, aku lupa nama ilmiahnya tapi intinya sendi-sendi dalam tubuhnya mengalami peradangan. Setiap berjalan lima menit dia harus duduk karena tidak kuat menahan sakit. Pada malam hari dia kesulitan tidur karena kesakitan dan berbagai kesulitan lainnya.

And yet...dia masih bisa memimpin pujian selama 30 menit ketika kebaktian. Memimpin pujian loh ya, itu berarti dia kudu berdiri, loncat-loncat sambil mempertahankan kualitas suaranya. Aku sampe heran dia dapet dari kekuatan itu.... *geleng-geleng* Bukan hanya itu, dia masih bisa menggembalakan anak-anak rohaninya dengan baik. Padahal, jalan saja susah *geleng-geleng lagi*

Aku selalu kagum dengan semangatnya dalam Tuhan. Waktu KKR Kesembuhan Ilahi "Kuasa Nama Yesus" kemarin, dia bahkan tidak duduk dibilik orang sakit dan minta didoakan. Dia justru melayani sebagai tim Data Entry yang bertugas mencatat kesembuhan yang terjadi. I'm speechless :) Tuhan pasti punya rencana yang jauuuh lebih luar biasa daripada sekedar memulihkan kesehatannya :) dan Wenna, jangan pernah nyerah dengan keadaan, sekarang aja kamu udah jadi kesaksian yang luar biasa. Setiap kali aku hendak malas-malasan, kesungguhan Wenna selalu mengingatkan aku untuk terus berlari tanpa mengurangi kecepatan :D So proud of you sister :) Terima kasih karena sejak aku masih bayi rohani, Wenna sudah berjalan empat mil di depanku menjadi teladan yang selalu bisa kutiru. Tidak ada namanya mantan Ibu Rohani *peluk*

Filipi 3:17. Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.
____________________________________________________________________

Oh, sedikit laporan dari KKR Kesembuhan Ilahi Kuasa Nama Yesus 2 :D

Dari sekitar 400an orang sakit yang datang, ada 85 orang sakit yang sembuh :) 34 diantara naik ke panggung dan memberi kesaksian. Beberapa yang maju kesaksian adalah Tuli telinga sebelah kiri yang disembuhkan, stroke, lumpuh, kanker. Rabun Jauh parah yang kudu pake kacamata sejak umur 3 tahun, waktu kesaksian dia sama sekali ga pake kacamata!!! Aku paling terharu sama seorang nenek yang kudu pake tongkat, namun pas disembuhkan dia bisa lepas dari tongkatnya! Waktu dia jalan di panggung dia sampe nangis. Huaaaaa! I'm so proud to be a part of God's movement and see His works *nangis terharu* semua capek-capek, begadang, ujan-ujan jangkau jiwa rasanya ga ada apa-apanya dibandingkan melihat nama Tuhan ditinggikan.

Mungkin bagi beberapa orang, 85 ga sebanding dengan ratusan yang belum disembuhkan, tapi bagi 85 orang itu, mungkin adalah segalanya :) mereka yang udah kehilangan harapan menemukan harapan mereka kembali dalam nama Yesus :D hahahah~ Salah satu yang disembuhkan adalah orang tua dari salah satu anak rohaniku :) Tuhan memang Luas BIASA! *joged!*

Yang ga bisa datang di Kuasa Nama Yesus, tenang, bulan april sekitar tanggal 20 an akan ada Festival Kuasa Allah 19 di Surabaya! Itu KKR kesembuhan Ilahi juga XD hahahah~ Tunggu saja update berikutnya :D aku pasti akan share gambarnya disini ;)

See ya!

Read More

Senin, 10 Maret 2014

I Said, They Said


Hello! Akhirnya aku posting sesuatu di awal bulan Maret :D heheheh~ Senangbisa menyempatkan diri untuk nulis di blog yang mulai jarang tersentuh :D hahahaha~ Oke, kita lanjut aja deh~

Awalnya aku berpikir seperti ini, berapa sering kita mendengar suara-suara yang berbicara ini dan itu tentang diri kita. Suara itu bisa dari kenalan, orang tua, sahabat, musuh atau bahkan diri kita sendiri. Perkataan-perkataan itu bisa benar bisa salah, bisa positif bisa negatuf, bisa kita dengar atau kita tolak. Hm...masalahnya perkataan-perkataan tersebut disadari oleh kita atau tidak, memberi efek pada diri kita. Apalagi bila perkataan yang sama diucapkan berulang-ulang oleh banyak orang. Kita akan mulai menganggap bahwa perkataan mereka adalah kebenaran. Tidak jarang suara-suara itu yang akhirnya mendefinisikan siapa kita, apa yang kita lakukan, apa yang kita pikirkan. Tidak percaya, kita lihat contohnya.

Ada sebuah cerita, seorang pria menatap dirinya di kaca dan mendapati bahwa hari itu adalah hari terbaiknya. Dia merasa sangat bertenaga dan bersemangat. Lalu si pria berjalan keluar rumahnya menuju ke tempat kerja. Di jalan dia bertemu teman satu divisinya yang berkata bahwa wajahnya pucat. Si Pria tidak percaya dan mengabaikan perkataan itu. Ketika dia tiba di depan pintu kantor, seorang OB berkata bahwa dia terlihat kurang sehat. Sang Pria pun mulai mempertanyakan apa benar yang dikatakan oleh kedua orang tersebut. Ketika dia tiba di lantai tempat dia bekerja, sang manajer menyapanya dan bertanya apakah dia sakit? Sang pria itu menjadi semakin tidak yakin dengan kesehatannya. Ketika dia melihat dirinya di cermin kamar mandi, dia berkata pada dirinya, "Jangan-jangan aku benar-benar sakit...." Dan akhirnya dia merasa lemas di sepanjang hari.

Itu baru cerita (atau mungkin kalau kita iseng, kita bisa mencobanya ke rekan kerja kita :p ) tapi pernahkah kita melihat seorang remaja yang minder karena seumur hidupnya dikata-katai "tidak berguna" atau seorang gadis yang merasa dirinya tidak berharga karena dikatai "Jelek" oleh pacarnya? Atau...atau...seseorang menjadi gay karena semasa kecilnya sering dikatai demikian hanya karena dia menyukai permainan cewek?

Hmm...mantep banget kan perkataan. Gimana lagi, kita diciptakan serupa dan segambar dengan Allah yang sekali berfirman langsung jadi. Walaupun kita sudah jatuh dalam dosa, tapi kuasa itu tetap ada. Manusia memiliki kuasa dalam perkataannya :) lha terus, apa yang bisa kita lakukan kalau disekeliling kita dipenuhi perkataan-perkataan negatif?

Jawabannya adalah siapa yang kita lebih banyak dengar. Pertama, kelilingi diri kita dengan orang-orang yang positif dan membangun :) mereka akan mengatakan hal-hal yang membantu kita memenuhi panggilan kita dan yang kedua adalah dengarkan Firman Tuhan.

Yah, kita kan ga bisa atur orang lain ngomong apa tapi kita bisa atur siapa yang kita dengar lebih banyak. Pastikan suaraNya lebih keras dalam hidup kita dari suara manapun yang kita dengar. Lalu, gimana cara dengar suaraNya? Cara yang paling sederhana dan ga perlu karunia kenabian adalah dengan membaca Alkitab :) That's why membaca Alkitab adalah wajib hukumnya kalau kita mau mengikut Tuhan. Kita bisa mendengar orang lain berkata kita tidak berharga tapi Alkitab berkata:

Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu. Yesaya 43:4

Seberapa sering kita mendengar perkataan tidak berharga dikatakan orang lain, ucapkan ayat yang sama sesering itu :) sampai suara Tuhan lebih keras dalam hidup kita dan suaraNya yang bergema dalam hati kita. Contoh lain adalah kasus lesbian/gay yang muncul ketika seseorang memiliki kebiasaan yang tidak sesuai dengan sterotip gender di masyarakat lalu dituduh-tuduh berprilaku seks menyimpang sampai akhirnya beneran menyimpang. Jika kamu adalah salah satu yang membaca blog ini, well, aku cuma mau bilang, gender kita tidak ditentukan oleh apa kata orang tapi dari apa kata Tuhan :) Kamu wanita karena Tuhan menciptakan kamu sebagai wanita, titik. Begitupula, kamu pria karena Tuhan berkata kamu pria! Kepriaanmu bukan ditentukan oleh seberapa besar ototmu, seberapa tangguh kamu, atau seberapa aneh hobimu :)

Sedikit sharing, aku memang ga seperti sterotip cewek pada umumnya, yah...kalian bisa definisikan sendiri lah :D lalu suatu ketika seorang temanku dengan bercanda berkata, "Kamu emang bukan cewek." Ugh...perkataan itu menghujam batin //eaaaa~ walaupun bercanda jeung.... Sempat aku terpuruk dan merasa gagal sebagai seorang wanita yang tidak bisa memenuhi kriteria Amsal 31 //uhuk.... Sampai Tuhan berkata keras dalam hatiku bahwa aku adalah seorang wanita karena Tuhan sendiri yang berkata bahwa aku adalah wanita! Aku ga gagal kok :) dan sejak saat itu bila ada celetukan yang sama terlontar lagi, aku bisa membalasnya dengan senyuman :D heheheh~ Terserah apa kata mereka~ Aku mendengar suaraNya yang lebih besar dalam hidupku. Identitasku berasal dari Tuhan, bukan berasal dari apa kata orang, apa kata dunia.

Ada banyak kasus yang bisa kita jumpai. Tapi akarnya tetap sama, siapa yang lebih kita dengar, mereka, diri kita atau Tuhan :) Jangan salah, diri sendiri pun bisa memberi pernyataan yang keliru :D hanya firman yang menyatakan kebenaran ;) Jika orang lain berkata kamu tidak dicintai, tidak diinginkan, baca Yesaya 43 :) aku ga bisa share semua ayatnya disini, tapi apapun yang dikatakan orang, balas dengan firman Tuhan, perkatakan siang dan malam okay? :D

Semoga uraian singkat (segini singkat?! XD ) bisa membantu kita untuk mendengar apa yang harus kita dengar :D

You are not what I said, what they said, what your parent said, what yourself said. You are what God said about you :)

Happy listening!
________________________________________________________________

Sebelum tutup postingan, aku mau mampir iklan bentar :D


Ini ada KKR kesembuhan Ilahi "Kuasa Nama Yesus 2" tanggal 22 maret 2014 di SSCC - Pakuwon Trade Center (PTC) di Surabaya. Open Gate jam 16.00 :D

Kalau kalian ada kerabat yang sakit apapun, bisa diajak ke sana :D karena di KNY 1 tercatat ratusan orang disembuhkan, dari penyakit ringan (cacar, flu, sakit kepala, maag dll) sampai penyakit berat (Stroke, tuli, jantung bocor, lumpuh dll). Waktu itu aku dipercayakan menjadi petugas yang mencatat beberapa orang yang akan kesaksian di atas panggung dan aku benar-benar speechless melihat mereka disembuhkan. Aku melihat dengan mata kepalaku orang lumpuh bisa jalan! Salah satunya yang disembuhkan adalah mama dari anak persekutuan doaku yang kena Stroke :) God still do miracles today! Amazing! Jangan menyerah dengan keadaan, masih ada harapan di dalam namaNya bahkan ketika dokter sudah angkat tangan :) :D Info lebih lanjut bisa drop komentar di bawah ini :D Sekian dah iklannya :D heheheeh~ See you at the next post! :D

Read More

Rabu, 26 Februari 2014

[Short Story] The Wisdom I Ask....


Dia berjalan menyusuri lorong-lorong istana. Tiang-tiang yang menjulang tinggi memberi kesan angker pada dirinya yang masih kecil. Digenggamnya tangan sang ayah dengan erat.

"Ayah, kita akan kemana?" Tanya anak kecil itu dengan takut.

Sang ayah menoleh, seorang pria dengan jenggot tebal menutupi dagu dan pipinya. Matanya menatap penuh kasih sayang pada putra yang sangat dicintainya. Sebuah mahkota emas dengan permata-permata indah terpasang di atas sebuah rambut ikal coklat.

"Kita akan menemui rakyat, anakku." Jawab Sang Ayah seraya tersenyum.

Terdengar pintu terbuka dan sebuah sinar menyeruak masuk. Anak kecil itu menutup matanya karena silau. Ketika perlahan-lahan matanya terbiasa, dia melihat jutaan rakyat berdiri bawah balkon istana dengan sorakan penuh kekaguman dan rasa cinta pada sang Raja.

"Anakku, suatu ketika kamu yang akan memimpin mereka...." Ucapan Sang Ayah menggema kuat diantara gempita sorak sorai.

*

Seorang pemuda berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar Raja. Rambutnya yang coklat kusut karena sudah berkali-kali diacak oleh tangannya sendiri. Wajahnya menunjukkan raut khawatir. Berkali-kali dia menoleh ke arah pintu berharap bahwa pintu tersebut terbuka. 

Beberapa menit kemudian harapannya terkabul. Pintu ganda berukiran emas tersebut membuka, seorang tabib tua keluar dengan raut wajah sedih.

"Yang Mulia, Ayah anda ingin berbicara dengan anda." Ucap Sang Tabib seraya menunduk memberi hormat.

Pemuda tersebut hanya mengangguk singkat membalas penghormatan tersebut. Dia langsung melangkah dengan langkah lebar memasuki kamar. Begitu ia tiba di dalam, dia terdiam sejenak. Hatinya tiba-tiba digelauti rasa sedih yang amat sangat. Dia berjalan perlahan menuju tempat tidur mewah berkelambu ungu. Di atas tempat tidur, terbaring ayahnya. Seorang yang dulu begitu gagah kini tak berdaya. Dia masih ingat betapa tampan ayahnya dulu, dengan rambut kecoklatan dan jubah kebesaran dengan sulaman emas, seorang Raja yang berwibawa, membawa kemenangan kemanapun pasukannya berperang. Dilihatnya rambut ayahnya yang sudah berubah warna menjadi keperakan, garis-garis usia mengaburkan sisa-sisa kemudaan.

"Anakku...." Ucap pria tua itu lirih.

Sang pemuda duduk di samping ranjang, mendekatkan dirinya agar dapat mendengar suara parau yang lemah. Para pelayan bergerak mundur, memberi ruang pada ayah dan anak tersebut.

"Aku sini akan menempuh jalan segala yang fana, maka kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki." Sang Raja tua itu berhenti sejenak, mengambil napas. "Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya...."

Raja tua itu kembali berhenti. Dia terengah-engah, napasnya pendek dan sering.

"Ayah...." Balas sang Anak dengan memohon. "Anakmu ini masih muda.... Aku...belum siap memimpin kerajaan sebesar ini sendirian...."

Dengan tangan gemetar dan dengan seluruh sisa kekuatannya, Sang Raja tua mengangkat tangannya. Sang anak langsung menggenggam tangan yang ringkih tersebut.

"Jangan bersandar pada kekuatanmu, nak...." Ucap orang tua itu dengan lirih. "Ingatlah akan Tuhan, Allahmu...."

Raja itu tersenyum lemah, perlahan matanya tertutup dan dengan sebuah kedamaian, dia menghembuskan nafas terakhirnya. Kehidupan meninggalkan tubuh tua itu.

"AYAAAAH!!!"

*

Pemuda tersebut terduduk di kamarnya yang terasa asing.... Pemakaman ayahnya sudah berlalu lama. Para peratap sudah kembali ke rumah mereka masing-masing tapi dia tetap saja tidak bisa menikmati jabatannya sebagai raja. Hatinya gentar memikirkan tanggung jawab yang tiba-tiba jatuh di pundaknya. Dia bukan memimpin sembarang rakyat, mereka bukan miliknya yang bisa dia perintah sesuka hati. Mereka adalah milik kepunyaan Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah pencipta semesta. Dia tak lebih dari wakilNya untuk membawa mereka menaati semua perintahNya. Betapa ayahnya senantiasa mengingatkannya ketika beliau masih hidup.

Lampu dian menyala redup tak sanggup menerangi seluruh kamar tapi anak muda itu tidak berniat untuk menambah jumlah cahaya. Dia menyukai kegelapan yang membungkusnya sementara dia memanjatkan doanya lamat-lamat. Kini dia hanya bisa sepenuhnya bergantung kepada Sang Pemberi Amanat. Pemuda itu terus berdoa dan berdoa, berbisik pelan pada Tuhan yang selama ini dia kenal sampai dia berada di ambang kesadarannya....

"Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu."

Sebuah suara menggema pelan. Suara yang berwibawa namun juga lembut. Dia langsung terjaga tapi bahkan ketika dia membuka mata, dia tidak bisa melihat apapun. Sebuah cahaya yang menyilaukan membuat sekelilingnya putih. Pemuda tersebut langsung tersungkur ke tanah. Dia tahu siapa yang berbicara....

Hatinya bergejolak. Allah menjawab doanya! Kini Sang Pencipta bertanya apa yang diinginkan olehnya....

Dia terdiam. Apa yang bisa membantunya memimpin bangsanya? 

Dia tetap berlutut. Ketika dia mengucapkan permintaannya, hatinya bergetar dengan perasaan tak berdaya. Dia tidak sanggup memerintah sendirian...tanpa bantuan dari Sang Raja Agung....

"Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya. Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?"

Pemuda itu mengucapkan permintaannya dengan suara yang lirih. Siapa dia hingga sanggup mengangkat suaranya pada Allah Semesta....

Sunyi sesaat.... Jantung pemuda berdegup kencang. Apakah Allah mendengarkan permintannya?

"Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu," suara itu kembali bergema, "melainkan pengertian untuk memutuskan hukum,maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau. Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorangpun seperti engkau di antara raja-raja."

.......

....

Perlahan-lahan, sinar itu menghilang. Pemuda itu mulai berani membuka matanya dan dia sudah berada di kamarnya. Matahari mengintip dibalik celah bukit. Dia bertanya-tanya apakah hal yang barusan dia alami itu nyata....

Dia berdiri dan berjalan menuju jendela, sejauh mata memandang, itulah seluruh wilayah kekuasaannya. Padang rumput, gunung dan bukit yang menjulang, tanah perjanjian....

Hari ini, ketika dia memandang semua itu, ada yang berbeda dalam hatinya. Damai sejahtera turun bagaikan embun dari gunung Hermon menyegarkan benaknya. Dia tahu dia akan sanggup melakukan tugasnya dengan baik. Bukan karena dirinya tapi karena Allah yang disembahnya....

Untuk pertama kalinya sejah ayahnya meninggal, raja muda itu tersenyum....

__________________________________________________________

Aloha! Happy Valentine! Better late than never right :D hahahha~

Akhirnya cerita ini keluar dari draftnya hahahah~ Sempat ingin berhenti dan kubiarkan menjadi draft selamanya tapi toh puji Tuhan bisa kelar heheheh~

Where God guides, He provides :)


Read More

Senin, 27 Januari 2014

[Short Story] Secret Room



Ting tong!!!

....

Ting Tong.....

Suara bel pintu terdengar sayup ditelingaku, membuatku berhenti dari hal yang sedang kulakukan. Aku melirik partnerku yang mengangguk, memberi persetujuan bagiku untuk menyambut tamu.
Read More

Kamis, 26 Desember 2013

[Short Story] Christmas Night



"Pelakunya adalah kakak korban." Ucap Terra pada mikrofon yang tertanam pada kacamata hitamnya. "Sampaikan pada Rheona dan Robert untuk segera menangkapnya."

"Got it." Balas Chris di ujung sambungan.

"Selamat hari Natal." Ucap Terra sebelum Chris menutup saluran komunikasi.

Sebuah kesunyian menggantung sesaat, dengan canggung Chris menjawab, "Selamat Natal juga."

Sambungan terputus.

Terra melepaskan googlenya dan meletakkannya di meja kecil samping tempat tidurnya. Dia menatap sekeliling, Kamar itu putih, kosong dan dingin, hanya berisi perlengkapan penunjang hidup dan alat-alat pengukur ini itu. Satu-satunya warna di kamar itu adalah pohon natal mini dari plastik yang diberikan Chelios kemarin. Terra menghela napas berat. Seperti biasa, hari natal pun akan dia habiskan di dalam kamar perawatannya. Sudah dua tahun terakhir ini tubuhnya tidak mengizinkannya untuk menikmati natal di luar . Dia hanya akan keluar bila itu berhubungan dengan pekerjaan. Arthur tidak mau mengambil resiko apapun bila berhubungan dengan kesehatannya. Yah, Terra menghibur diri, setidaknya dia akan melaluinya bersama orang-orang terdekatnya tapi....

Ayahnya akan sibuk menangkap pembunuh. Chelios sedang sibuk dengan kafe barunya dimana hari Natal seperti ini pasti sedang sangat ramai. Terra terus menghitung orang-orang terdekatnya. Masih ada Arthur....

"Ping!"

Terra melihat pesan yang masuk di ponselnya.

"Aku masih harus melihat hasil penelitian.... Segera kesana."

Terra memandang pesan singkat itu dengan datar sebelum meletakkan ponselnya kembali ke meja. Dia melihat jam, sudah pukul sepuluh malam. Sepertinya tahun ini dia akan sendiri di hari natal.... Gadis itu menghela napas panjang seraya menatap ke luar jendela. Sayup-sayup terdengar lagu-lagu natal yang bergema di langit Heroes City. Pandangan matanya teralih pada beberapa potong kado yang sudah dia siapkan. Barang-barang tersebut akan diserahkan setelah Natal. Terra menghela napas lagi dan kembali menatap ke luar. Salju perlahan-lahan turun dengan lembut. Terra menatap langit, tiba-tiba sebuah rasa syukur hadir dalam hatinya. Dia tersenyum, setidaknya dia masih hidup untuk menikmati natal satu kali lagi.... Tidak ada hal yang perlu disesali jika dia masih punya kesempatan untuk bersama orang-orang yang dia kasihi sedikit lebih lama walaupun bukan hari ini....

"Knock-knock."

"Masuk." Ucap Terra seraya bertanya-tanya siapa yang datang.

Pintu terbuka, muncul seorang pria berumur dua puluhan dengan rambut pendek berantakan dicat putih.

"Chris?" Sapa Terra setengah tidak percaya. Chris nyaris tidak pernah keluar dari ruangan komputernya. IT dari HCPD itu lebih suka bergaul dengan CPU dan monitor daripada dengan manusia.

"Hello Terra!" Seru seorang lain dari belakang Chris.

Terra akhirnya tahu siapa yang berhasil memaksa Chris keluar. Pria tersebut berjalan mendahului Chris dan berdiri di samping tempat tidur Terra. Otak dibalik semua penemuan kepolisian. Seorang pria berumur tiga puluhan dengan rambut hitam dibelah tengah dan sebuah monocle yang juga berfungsi sebagai kaca pembesar.

"Selamat Natal!" Seru Hardy seraya mengambil tangan Terra untuk disalami dengan penuh semangat. "Chris merasa kesepian, jadi kubawa sekalian disini." Tambahnya riang yang dibalas dengan decakan kesal dari rekannya.

"Tidak biasanya kalian kemari...." Balas Terra seraya menerima bungkusan makanan dari mereka.

"Yah, hanya sedikit penghuni kantor polisi di hari natal. Jadi mengapa para penghuni tetap tempat ini tidak berkumpul?" Jawab Hardy asal. "Jadi...apa yang bisa kulakukan disini...."

"Arthur tidak suka barang-barangnya disentuh...." Terra memperingatkan ketika Hardy dengan mulai memandang alat-alat yang ada diruangan itu dengan tatapan jahil.

"Ah, paling dia mengomel...." Balas Hardy seraya mulai mengeluarkan obeng dan mulai melepas mur-mur yang terpasang sambil bersiul kecil.

"Aku mendengar itu, Hardy!" Seru Arthur dari pintu yang tidak ditutup oleh Hardy, dia terlihat kehabisan napas, pasti dia berlari di sepanjang lorong. Wajahnya tampak kesal. "Aku buru-buru kemari hanya untuk melihat perlengkapan berharga ratusan ribu dollar dihancurkan. Apa yang kamu lakukan disini, heh?!"

"Jangan terlalu membesar-besarkan. Kamu sedang berbicara dengan kepala departemen riset HCPD, aku tersinggung kalau kamu meragukan kemampuanku." Balas Hardy berpura-pura kesal sementara Arthur merebut obeng dari tangannya.

"Apanya?! Terakhir kamu membongkar CT-Scan di ruang kesehatan, kamu sama sekali tidak memasangnya kembali!"

Terra memandang mereka debat kusir. Hardy tampak senang menganggu Arthur dan terus-menerus memancing kemarahan dokter tersebut. Ketenangan di kamar tersebut lenyap tapi Terra mendapati dirinya tersenyum tipis. Sudah lama sekali sejak dirinya dilingkupi keramaian seperti ini....

"Ada apa ini?" Tanya Chelios yang baru saja masuk sambil membawa sebotol sari buah yang diberi pita dan dua gelas wine. Dia memandangi Arthur dan Hardy yang masih saja bertukar sindiran.

"Bagaimana dengan kafemu?" Tanya Terra tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

"Well, I'm glad I can make it." Jawabnya seraya mengedipkan matanya. "Kafeku sudah kututup, para pegawaiku juga butuh natal mereka." Lanjutnya seraya meminta Terra memegang kedua gelas tersebut sementara dia membuka dan menuangkan isi botol ke gelas. "Aku ingin membeli wine tapi Arthur melarangmu untuk minum alkohol dan..." dia memandang sekeliling, "kurasa aku harus mengubur impianku untuk menikmati natal hanya berdua...." Gerutunya seraya meneguk isi gelas.

Terra baru saja menyodorkan gelas kepada Chris ketika pintu kembali terbuka. Sesaat Terra tidak mempercayai penglihatannya namun Robert memang berdiri di ambang pintu dengan jaket yang dipenuhi salju ditangannya. Dibelakangnya ada Rheona, Harold dan Derick. Arthur dan Hardy langsung berhenti berdebat ketika melihat Robert berjalan masuk.

"Boss...bagaimana dengan kasusnya?" Tanya Terra ketika Robert mendekatinya.

"Pelaku sudah diamankan." Balas Robert. "Kerja bagus telah mengidentifikasi pelakunya."

Terra mengangguk lalu dia mengambil kado paling atas dan memberikannya pada Robert, "Selamat hari Natal...Ayah."

Robert menerima hadiah itu dengan canggung, "Terima kasih. Selamat hari Natal...."

Robert terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia hanya membolak-balik kotak persegi kecil itu. Suasana kamar itu menjadi canggung.

"Kurasa kita perlu lebih banyak gelas." Ucap Chelios menyelamatkan Robert. "Derick, bisa tolong ambilkan di bawah?"

"Beres." Balas pria muda tersebut.

"Biar kutemani." Tambah Rheona.

Chelios mengajak bicara Hardy. Sementara Arthur memeriksa perlengkapan medisnya, takut kalau-kalau Hardy sudah menyentuh salah satunya. Chris tetap duduk di pojok ruangan, mengeluarkan laptop dan kembali tenggelam dalam dunianya. Robert membuka kado dari Terra. Terra memandang setiap kejadian yang terjadi di dalam kamarnya yang biasanya sunyi. Jika tadi dia bersyukur masih dapat hidup di natal tahun ini, Tuhan juga memberikannya teman-teman dan keluarga untuk bersamanya di hari Natal....

Terra tersenyum lebar, dia sudah mendapatkan yang terbaik di hari ini....

_______________________________________________________

Merry Christmas! Maaf kalau agak terlambat beberapa menit hahahah~ Akhirnya aku post sesuatu di blog ini.... Well, akhir-akhir ini aku lebih banyak menggambar daripada menulis hahahah~ sedang berusaha mengumpulkan mood untuk menulis =.=

BTW, di natal tahun ini aku diingatkan betapa besar kasih Tuhan kepada manusia...dan sekali lagi aku terkagum padaNya.... //klepek-klepek//

Aku berusaha untuk menampilkan banyak karakter sekaligus di cerita ini.... Berhasil atau tidak...well, aku tunggu komennya hahahah~

Click here to read another story of S.U.R.F.


Robert - Rheona - Arthur - Harold - Chris - Chelios - Derick - Terra - Hardy - Judith

Read More

Minggu, 24 November 2013

Ever Ready


Hai-hai, untunglah bulan ini bisa ngepost lebih dari dua hahahah~ Dan kali ini kita akan bicara tentang merk baterai selalu siap sedia.

Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. 2 Timotius 4: 2
Ayat di atas adalah salah satu ayat yang selalu mengingatkan aku untuk berjaga-jaga :D hahahah~ Karena kita ga pernah tahu kapan Tuhan mengirimkan orang untuk kita beritakan kabar baik :D oke, aku akan coba bahas ayat ini dalam konteks yang sedikit lebih luas.

Pernah ga, ada seseorang datang kepada kita dan bercerita tentang keluhannya, mereka ingin mendapatkan saran namun karena kita tidak sedang dalam kondisi hati yang baik, saran yang kita keluarkan akhirnya tidak maksimal. Mendal atau bahkan berbalik menjadi tuduhan bagi kita? :D

Atau ada kejadian dimana seseorang butuh kelepasan di depan kita tapi kita tidak berani mendoakan karena beberapa saat sebelumnya kita jatuh dalam dosa.

Bicara tentang kesiapan, ada banyak hal yang mempengaruhinya namun seperti kata Firman Tuhan kita harus senantiasa siap memberitakan Injil apakah itu saat kita berkotbah di atas mimbar, mengajak teman kita ke Gereja, mendengar seseorang membagikan masalahnya, saat pelayanan lagi penuh-penuhnya atau sedang dibawah todongan senjata. Yang terakhir itu agak ekstrim sih, tapi itu termasuk salah satu contoh dari keadaan 'tidak baik' :) Lalu apa yang bisa kita siapkan agar kita senantiasa sigap memberitakan Injil? Menurutku sih dibagi 3 :) stamina rohani, stamina jiwa dan stamina fisik. Ps: Ini juga berguna bagi yang jadwalnya sibuk :D hehehe~ entah pelayanan atau pekerjaan atau hal lain :) Jaga terus ketiga hal ini ;)

Oke yang pertama adalah stamina rohani. Menurutku ini yang paling penting dari semua stamina :D soalnya tanpa ini semua hal yang kita lakukan hanya akan menjadi rutinitas dan tidak memiliki dampak yang besar. Misalnya berdampak sekalipun itu hanya karena sisa-sisa kasih karunia dan urapan kemarin :( celakanya ini adalah stamina yang paling sering kita korbankan kalau kita sudah sibuk. Berapa sering kita ga sate karena kita sudah tepar? Aku pernah beberapa kali mengalaminya dan itu sangat-sangat tidak menyenangkan, pelayanan dan pekerjaan yang harusnya menjadi berkat berubah jadi beban. Puji Tuhan, Tuhan baeeek banget, dicubitlah saya supaya bertobat :D hahahah~ Tanda-tanda dari turunnya stamina rohani adalah hati yang mulai tidak tenang :) gampang marah, emosian dll. Kalau dibiarkan bisa berujung pada kematian rohani, serem kan? Cara mempertahankan stamina yang satu ini gampang sih, tetap ambil waktu pribadi dengan Tuhan :) gimanapun caranya! Mau nyuri2 waktu atau mempertahankan jam-jam saat teduh, ubah jadwal sate, dengerin lebih banyak lagu rohani, kotbah, terserah! Pokoknya roh kita harus tetap dapat makan :D Minta selalu Tuhan memberi hati yang haus dan lapar akan Dia :) sebelum kita bisa melayani orang lain, kita perlu dilayani oleh Tuhan terlebih dahulu :D supaya apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita akan terus mendekat padaNya walaupun harus merangkak sekalipun :D heheheh~ Ingat, hanya Roh Kudus yang sanggup mengubah hati orang dan keselamatan adalah karyaNya bukan karya kita :) sebelum kita memberitakan Injil pastikan diri kita dipenuhi olehNya :D

Yang kedua adalah stamina jiwa :D oke, seperti yang sering aku bilang buat diriku sendiri, kita harus tetap waras untuk bisa melakukan hal-hal yang Tuhan percayakan pada kita. Iya dong, kalau kita ga bisa atur pikiran kita, kita tidak akan bisa maksimal memberitakan Injil. Contoh, pas orang sharing, pikiran kita kemana-mana mikirin ini itu, stress, akhirnya tidak bisa memberitakan Yesus pada orang tersebut padahal Tuhan yang sanggup menyelesaikan masalahnya :) so, kalau pikiran kita mulai capek, ambil waktu untuk istirahat. Bisa dengan jalan-jalan, waktu berkualitas dengan orang terdekat atau bisa juga dengan waktu untuk berdiam diri (buat orang introvert :3 hahahahah~) Pikiran yang penuh tidak membawa kita ke mana-mana :) jangan dipaksa atau kita tidak akan bisa maksimal. Ingat, kita tidak bisa melayani orang dengan pikiran yang kacau. 

Yang terakhir adalah stamina fisik. Yep! Walaupun kita harus menyalibkan daging, tetap ingat bahwa kita masih hidup didalamnya :D hahahaha~ Dengarkan tubuhmu bila dia berteriak kelelahan :) tidur cukup, makan makanan yang bergizi dan mengkonsumsi vitamin bila perlu. Aku pernah melalaikan yang satu ini sampai dalam setahun aku kena tipes dua kali. Sejak saat itu aku bertobat hahahah~ Mulai tidur teratur sampai jaga makan. Kalau sudah tidak kuat, tidak kupaksa :) Puji Tuhan tahun ini aku lalui tanpa sakit parah :D hehehehe~ Alhasil aku bisa lebih efektif melakukan hal-hal yang Tuhan taruh dalam hidupku dan ketika Tuhan memintaku untuk menemui seseorang dan membagikan kasih Tuhan, aku dalam kondisi prima :D heheheh~

Sekian dulu deh ocehanku kali ini :D semoga bisa menginspirasi untuk bisa memberi yang lebih baik lagi dan menjadi alat Tuhan yang efektif :) biar lah kita menjadi pemberita Injil kapanpun Tuhan mengutus kita. Be Ever Ready!
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

© Everything But Ordinary, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena