Selasa, 16 Oktober 2012

[Short Story] Steal My Show

Hari ini segalanya tampak sempurna.

Aku berjalan menyusuri jalan setapak. Sekelilingku tampak berkilau seakan semua benda mengeluarkan cahaya. Aku bertemu beberapa orang dengan senyum di wajah mereka, menyapaku. Aku pun tersenyum sambil melambaikan tangan kepada mereka. Tawa kecil terdengar dari mulutku. Aku terus berjalan dengan melompat kecil, aku seperti melangkah di atas awan. Hatiku riang, ringan tanpa beban. Rasanya ingin terus tertawa.

Dari kejauhan aku dapat melihat bangunan mungil berwarna putih. Sebuah salib berwarna sama berdiri di atap memberi jawaban kepada siapapun yang bertanya-tanya. Aku melangkah semakin dekat, aku melihat pintu kayu ganda terbuka lebar dengan dua orang pria tersenyum ramah menyambutku. Aku menyalami mereka dengan hangat sebelum aku masuk ke dalam. Ruangan kecil itu dipenuhi dengan kursi-kursi kayu panjang dan pebnuh dengan orang-orang yang kukenal baik. Mereka menoleh ke arahku dan tersenyum. Beberapa berdiri menyambut dan memberi genggaman tangan yang hangat. Aku membalas mereka seraya terus berjalan menuju mimbar dimana sebuah meja kayu tinggi menantiku. Aku tak bisa berhenti tersenyum ketika aku menapaki tangga untuk naik ke atas mimbar. Aku mengangkat kepalaku dan melihat puluhan pandangan mata menatapku, menantiku berbicara.

Mataku terantuk pada seorang pria yang duduk di barisan terdepan. Dia tersenyum kepadaku. Aku menatap matanya dan aku mengerti. Aku beranjak turun dari mimbar mempersilakan dia untuk menggantikanku. Dia naik sementara aku duduk di tempatnya. Senyum tetap tak hilang dari wajahku. Orang itu mulai berbicara ketika seorang penerima tamu menghampiriku dan bertanya.

"Mengapa engkau biarkan dia berbicara? Siapa dia?"

Aku tersenyum ke arahnya, memandang pemuda itu dengan lekat sebelum berkata, "Dia Yesus."

*

Yohanes 3:30 Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.

Sebenarnya ide cerita ini diambil dari mimpi seorang hamba Tuhan, dengan penyesuaian alur cerita hehehe~ Akhir-akhir ini aku sering diingatkan bahwa Tuhan Yesus lah yang harus menguasai seluruh pelayanan kita. Aku tertemplak sekali, sewaktu mendengar cerita ini, aku tidak yakin aku akan menyerahkan 'mimbar'ku pada Kristus. Kadang kala kita merasa kita lebih mampu daripada Dia dalam melakukan sesuatu.

Phew, masih terus belajar untuk mengandalkan Dia dan bersedia turun ketika Dia memintaku. Toh sehebat-hebatnya kita, tidak ada yang bisa mengalahkan Dia bila Dia telah bertindak :) Dialah yang empunya Kuasa dan segalanya, kita hanyalah hambaNya :)

Aku lagi suka dengar lagu yang satu ini. Menurutku lagu ini benar-benar cocok bagi kita yang rindu Tuhan beperkara dalam hidup kita dan orang lain :) Dari album terbarunya Toby Mac, judulnya Steal My Show, Love it!


Jika Tuhan memintamu turun dan Dia yang mengambil alih, bersediakah kita melakukannya? :)

Have a blessed day!
Read More

Kamis, 11 Oktober 2012

[Short Story] The Dream

"Daddy!!!"

Aku berseru memanggil ayahku.

Panas. Sesak....

"Daddy!!!"

Seruku sekali lagi sebelum aku terbatuk kencang. Tenggorokanku gatal dan aku sulit bernapas. Aku menarik napas dengan dalam, aku harus memanggil ayah sekali lagi.

"DADDY!!!!"

Seruku lebih keras, kali ini aku sambil meringkuk di sudut tempat tidur, menghindari api yang mengelilingiku. Biasanya Daddy selalu lari menghampiriku kapanpun aku berteriak memanggilnya tapi kali ini tidak ada langkah kaki yang kukenal, hanya suara dari kayu yang terbakar. Aku menjerit sambil terlonjak turun ketika lemari bonekaku ambruk. Air mata membasahi pipiku, aku menangis sesegukkan.

"Daddy.... Mommy...."

Ucapku lirih sambil memeluk Mr. Teddy di bawah tempat tidur. Mr. Teddy adalah hadiah dari Daddy ketika aku berulang tahun yang keenam. Bulu coklatnya sedikit menghitam terkena asap. Aku mengusapnya pelan sebelum kupeluk lagi. Aku kepanasan dan takut, api-api ini sepertinya dapat membakarku kapan saja. Aku teringat sewaktu ayah lupa mengangkat daging dari panggangan, daging itu hitam dan rapuh.... Aku takut, aku akan menjadi seperti daging itu. Tangisku makin kencang.

"Daddy! Mommy!!!"

Terdengar suara keras, seperti orang menembak peluru di televisi. Aku langsung tersentak. Aku teringat Daddy dan Mommy yang tidur di kamar sebelah. Apa mereka baik-baik saja?

Kupeluk Mr. Teddy dengan erat. Aku berdiri perlahan, kuhirup napas dan aku terbatuk dengan keras. Aku kembali menunduk, mengambil napas panjang dan menahannya. Dengan tertatih aku berjalan menuju pintu di seberang ruangan yang langsung berhubungan dengan kamar Daddy dan Mommy. Aku takut, aku dapat mendengar suara kayu terbakar, tapi aku terus berjalan. Mataku perih, aku mendekap Mr. Teddy lebih erat dan menyembunyikan wajahku di baliknya. Dengan meraba-raba aku dapat menggapai gagang pintu, kubuka....

"Daddy...Mommy...."

Aku membuka mataku perlahan, aku melihat Daddy dan Mommy tertidur di lantai. Mata mereka tertutup dan sebuah cairan berwarna merah tua mengalir dari dahi mereka. Mereka tidak bergerak, membuatku berlari menghampiri mereka.

"Daddy! Daddy!" Seruku mengguncang tubuh Daddy dengan tangan kanan. Tangan kiriku memeluk Mr. Teddy dengan erat.

Daddy tidak bangun seperti biasanya. Rasa takut kembali datang. Bagaimana kalau Daddy tidak akan pernah bangun?

"Daddy!!!" Seruku lebih kencang sambil menarik-narik piyamanya. Daddy selalu bangun kalau aku melakukannya di pagi hari.

Daddy tetap tertidur. Aku semakin takut. Aku menoleh ke arah Mommy dan merangkak ke arahnya. Mommy pasti bisa membangunkan Daddy.

"Mommy! Mommy!" Panggilku mengguncang tangan kanannya. "Mommy bangun!"

Mommy tetap tertidur. Aku mencengkram Mr. Teddy dengan erat. Aku teringat ucapan Daddy tentang saudaranya yang juga tertidur. Daddy bilang dia tidak akan membuka mata lagi dan pergi ke tempat yang sangat jauh. Bagaimana kalau Daddy dan Mommy mengalami hal yang sama? Aku sangat takut. Aku menggoncang tubuh Mommy dengan lebih keras dan memanggilnya. Aku harus bisa membuat Mommy terbangun!

Aku menggoncang tubuh Mommy dengan putus asa. Air mata mengalir deras tanpa bisa aku tahan, aku tak tahu, aku hanya merasa bahwa Mommy dan Daddy tidak akan kembali lagi.

Tiba-tiba aku merasa ada orang lain berada di belakangku. Aku menoleh dengan cepat, Daddy pasti sudah bangun! Tapi ketika aku menoleh, aku melihat seorang paman yang tidak kukenal, aku hanya tahu, dia bukan orang baik. Dia berjalan mendekatiku, tangannya memegang sebuah benda yang kulihat di televisi, sebuah benda yang menimbulkan suara keras. Aku beringsut mundur. Dia maju selangkah lagi dan tangannya yang memegang benda besi itu terulur ke arahku....

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!"

*

Chris membuka matanya dengan cepat. Dia melihat langit-langit kelabu di atasnya. Dia mendengar nyanyian sumbang Hardy dan merasa denyutan tidak nyaman dari mata kirinya. Chris langsung tahu dia berada di ruangannya. Dia mengangkat kepalanya dan melihat lima monitor komputer menampilkan hasil perlacakan. Dia langsung menghembuskan napas, lagi-lagi dia tertidur di kursi kerjanya. Chris mengacak rambutnya untuk membuat kesadarannya kembali utuh. Pasti gara-gara dia tidak tidur selama berhari-hari demi memecahkan kode sekuriti yang diminta Robert.

"Hah...."

Chris menghembuskan napas lagi. Mimpi yang aneh. Rumah terbakar, seorang anak kecil dan sepasang mayat. Ini sudah ketiga kalinya dia memimpikan hal itu, selalu sama tapi dia tidak pernah mengerti apa maksudnya.

"Oh, sudah bangun rupanya...." Sapa Hardy masuk sambil menyerigai lebar.

"Tidak." Jawab Chris singkat, datar dengan nada finalitas sambil mengetik keyboardnya, tidak mengacuhkan Hardy.

"Hei, aku belum berkata apapun!" Protes Hardy, dia mengeluarkan sebuah Revolver tapi Chris tidak mau ambil resiko menjadi kelinci percobaannya.

"Jangan membosankan seperti itu." Lanjut Hardy sambil mendekati Chris berusaha membujuk pria itu untuk menemaninya mencoba penemuan terbarunya.

"Jangan ganggu aku." Balas Chris tajam tapi tiba-tiba mata kirinya berdenyut, sakit sekali.

"Ugh!" Serunya rambil memegangi wajahnya. kepalanya terasa pening dengan sangat, seperti seseorang sedang  menarik-narik seluruh syarat kepalanya. Bayangan-bayangan rumah terbakar dan mayat kembali menari. Tanpa tahu mengapa, hatinya terasa sakit sekali, rasa sedih menghujam dadanya tanpa ampun.

"Hei, kamu baik-baik saja?" Tanya Hardy santai sambil memainkan Revolver ditangannya. "Kurasa itu karena efek samping pemasangan nano komputer di mata kirimu. Get used to it."

" Lalu bagaimana dengan mimpi? Kamu tidak mengatakan apapun tentang itu sebelum operasi." Balas Chris dengan tajam. Rasa sakit di mata kirinya mereda, tapi napasnya masih memburu.

"Oh." Hardy tampak terkejut. "Kamu melihatnya? Well, aku sudah memperhitungkan kemungkinan itu tapi tak kusangka kamu akan benar-benar mengalaminya."

Chris hanya menatap Hardy dengan kesal, seandainya mata kirinya tidak berdenyut sakit, dia pasti sudah melemparkan sesuatu ke arah Hardy. Bisa-bisanya dia setenang itu sementara Chris harus menanggung akibat dari ulahnya.

"Itu dari pemakai nano komputer yang satunya, bisa memori, mimpi atau khayalan. Well, aku tidak selalu bisa mengatur apa saja yang lewat di jaringan." Lanjut Hardy santai sambil berjalan meninggalkan ruangan. "Tenang saja. Aku akan melakukan sesuatu dengan itu."

Baru saja Chris hendak membalas kata-kata Hardy, mata kirinya yang berwarna emas kembali sakit dan bayangan-bayangan dari mimpi itu kembali datang, tangisan seorang gadis kecil bergema dalam pikirannya, suara tembakan, dan rasa sakit yang menjalar, kesedihan menggerogotinya. Dia dapat merasakan semua kehilangan yang dialami anak itu. Chris mengambil napas dengan cepat, ini pasti bukan khayalan, ini adalah ingatan. Baginya, ini hanyalah mimpi, tapi bagi orang itu...ini adalah kenyataan...dan Chris tahu siapa dia....

Sekelebat bayangan kembali hadir dalam benak Chris, perasaan sedih dan kehilangan kembali menggelayut, hanya saja kali ini terasa begitu dekat, Chris tahu, saat ini, sang pemilik ingatan itu merasakan hal yang sama....

Dan sebutir air mata mengalir turun dari mata artifisialnya....

_______________________________________________


Here is the Cast
Robert - Rheona - Arthur - Harold - Chris - Chelios - Derick - Terra - Hardy - Judith

Another Shot from S.U.R.F Kali ini kita menyorot Chris J. Otero, the hacker dan masa lalu dari salah satu karakter yg ada di atas :) yang mengikuti dari awal pasti bisa menebak karakter itu heheheh~

Aku berpikir untuk menulis cerita ini dari awal, jadi mungkin selanjutnya S.U.R.F tidak lagi berupa penggalan-penggalan cerita tapi bisa diikuti secara kronologis dan dibagi per chapter. But well, aku masih belum punya waktu untuk buat draft lengkapnya orz, semoga bisa diselesaikan dalam waktu dekat hahahaha~ Sementara ini please enjoy this story's fragment :) Have a blessed day! Gbu~

S.U.R.F Series:

Photo Courtesy Allen City Limits
Read More

Selasa, 02 Oktober 2012

10 things before 30


10 hal yang perlu dilakukan sebelum umur 30 tahun :D hahah~ gara-gara postingan di sini dan di sini aku jadi tergerak buat ikutan hahahah~ Sebenarnya aku bukan orang yang suka menetapkan target tertentu untuk dicapai dalam waktu tertentu cuman karena tidak ada salahnya berencana, this post sounds like a good idea :3 fufufufuu~ Umurku sekarang masih termasuk muda dan masih agak jauh sampe umur 30 tahun so let's check what I can do with my time ;) FYI, List dibawah ini tidak disusun berdasarkan prioritas :D

1. Memiliki Rumah Pribadi
Sedang menabung untuk yang satu ini :) heheheh~ dalam waktu beberapa tahun kedepan aku harus sudah punya rumah sendiri yang bisa kutempati. Maunya sih yang minimalis, ga perlu besar tapi di tempat yang tenang walau di pusat kota. Hahahah~ Masih terus berdoa dan memohon bantuan Roh Kudus untuk memilih yang sesuai, bukan hanya untukku tapi juga untuk Dia :D heheheh~

2. Menulis Novel sampai kelar
Ini mah impianku dari dulu wakakaak~ cuman sejauh ini belum pernah menyelesaikan cerita berbobot sampai tamat. Dulu sempat buat 2 cerita yang sampai finish, cuman kalo dibaca-baca lagi, ga terlalu bagus, plotnya acak-acakan dan tidak memiliki pesan yang kuat. So, sekarang lagi bergumul untuk menyelesaikan sebuah novel yang bener-bener berbobot, dan bukan hanya keren tapi juga menjadi penyampai pesan Tuhan :) heheheh~ Masih belum kelarin draft...banyak waktu yang tersita untuk hal-hal yang lebih urgent :( harus segera diurus nih....

3. Punya Gitar dan bisa memainkannya
Ah...semoga.... Pingin banget bisa worship sambil ngegenjreng gitar :D heheheh~ Cuman yah...karena belum mahir bermain gitar plus masih mikir2 buat beli gitar yang cukup bagus, jadi ini masih ditunda dulu :) hehehehe~ Oh ya satu lagi, harus menemukan tempat yang cukup aman untuk memainkannya, kasian tetangga kalau ada suara-suara melengking tengah malem :p

4. Seluruh keluarga diselamatkan :)
Bukan hanya keluarga inti tapi semua anggota keluarga termasuk tante, om, sepupu dan sepaha :D heheheh~ Bukan hanya sekedar Kristen tapi memiliki kehidupan Rohani yang sehat dan memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan :) more prayer!!! Yosh!

5. Ikut perjalanan misi
Pokoknya harus bisa Mission Trip!!! Sekarang masih terkendala cuti dan dana. Semoga Tuhan atur supaya bisa pas waktunya hehehehe~

6. Married
Yang satu ini masih 50-50 kan Tuhan yang menentukan waktunya hahahah~ saya mah ikut ajaah~ Yang penting selama single bener-bener berbuah bagi Tuhan heheheh~

7. Traveling Often
Pingin jalan-jalan, sweet escape with God hahaha~ pingin jalan-jalan sendirian, just talking with God along the way :)

8. Ajak Ortu jalan-jalan ke luar negeri
Masa cuman aku aja yang diberkati hehehe~ kita juga harus jadi saluran berkat dong :) terutama buat orang yang sudah sangat berjasa pada kita :D Bener-bener deh, ortuku belum pernah ke luar negeri :( so, it will be great experience. Semoga belum terlalu tua buat jalan-jalan jauh hahahaah~ makanya sebisa mungkin before 30

9. Membangkitkan para pahlawan iman
Yep! Bukan hanya menjangkau jiwa tapi juga menuntun mereka menjadi murid Tuhan dan mengarahkan mereka untuk menggenapi visi Tuhan dalam hidup mereka :) wish ini juga termasuk berkotbah di kebaktian Youth wakakaka~ I think, panggilanku bukan full timer, tapi semoga bisa diberi kesempatan menyampaikan pesan Tuhan :D heheheh~

10. Beli oven dan belajar bikin kue
Ini salah satu hal yang kepingin banget aku lakuin sejak lama >.< I love cake!!! Cuman kalo beli kan bisa amit-amit mahalnya apalagi yang sudah teruji enak. That's why aku mau bisa buat sendiri, hanya saja, di rumah ga ada oven D: jadinya ga bisa eksperimen. I love making cake and decorating them XD hahahaha~ Suka banget liat cake yang betuknya lucu-lucu :) hehehehe~

Sebenarnya banyak yang aku inginkan tapi kurasa list di atas sudah cukup menjabarkan garis besarnya :) heheheh~ Now, I can begin do something to make them true hehehehe~ Yang lain boleh ikutan buat list gini juga :) It's fun! Jangan lupa drop link di sini dan komen di bawah ini ;) let me read it too heheheh~ Have a blessed day!

Read More

Sabtu, 29 September 2012

Only By His Grace


Chasing The Sun
Bulan lalu adalah bulan yang penuh kasih karunia. Hahahah~ Bener-bener hectic! Never been in this pressure before bahkan skripsi berasa santai. Hahahah~ Sorry kalo baru bisa posting sekarang, karena bulan ini pun sebenarnya bulan kasih karunia juga wakakak~

BTT, Bulan lalu ada dua project yang harus aku selesaikan dalam waktu yang hampir bersamaan. Yang pertama adalah ArtFest, sebuah event yang diadakan oleh gereja lokalku untuk memfasilitasi kreatifitas berkembang. Setelah melewati tahap penyisihan, puji Tuhan tim dari satelitku berhasil masuk ke final untuk kategori drama. Which is, more preparation include props and costume yang tidak diperlukan dalam audisi. Yang kedua adalah drama musikal untuk kebaktian Youth di gerejaku. So, as you expect, aku harus mempersiapkan waktu ku untuk dua drama yang akan tampil berturut-turut, Drama Musikal untuk hari sabtu minggu dan final lomba di hari seninnya. Freakin' Hectic.

Kita bahas satu-satu, untuk Drama Musikal, aku sempat tampil sebagai cameo *istilah keren buat peran ga penting* the problem is, jadwal latihannya yang aje gile, satu minggu bisa 2-3 kali karena waktu persiapan yang mepet plus perlu kolaborasi dari berbagai macam pihak, baik dari tim PAW, Drama dan Dancer. Walau peranku cuman numpang lewat, aku tetap harus hadir dalam setiap latihan sekalian volunteer bantu ngurus kostum yang notabene cuman 1 orang. Sekali latihan bisa sampe jam 10 malam dan hitung-hitung sampe rumah sekitar jam 11. Mantap! Di hari H, kita harus datang 4-5 jam lebih awal untuk make up, kostum dan cek sound, another morning call and sleepless night.

Lalu untuk lomba, lebih hectic. Bayangkan, seminggu sebelum hari H, kostum, properti belum jadi. Panic at the disco tenan! Jadi, dua hari sebelum hari senin, seluruh tim bergadang buat prop and costume. Bayangkan, aku hanya tidur max 3 jam selama dua hari berturut-turut karena harus menjahit kostum sampai subuh lalu 3 jam kemudian sudah harus make up untuk drama musikal. Amazing.... Seumur hidup, ini pertama kalinya aku bisa tetap ON walau hanya menutup mata 3 jam.

Selama itu aku benar-benar merasakan kasih karunia Tuhan yang bekerja dalam hidupku bukan aku. Selama ini aku adalah orang yang gampang teler, kurang tidur dikit udah pusing tapi rekor di atas adalah sebuah prestasi dan luar biasanya lagi, aku tetap bisa fokus dengan baik :) God is really amazing! Capek? Jelas! Tapi aku benar-benar bersyukur bisa terlibat dalam pelayanan drama :) aku banyak belajar dari pelayanan kali ini dan Tuhan banyak berbicara selama proses persiapan.

Yang pertama adalah bagaimana memanage tim, di lomba drama, aku mendapat bagian sebagai sutradara, yang berarti harus berkomunikasi dengan baik dengan semua anggota tim dan memastikan mereka dalam mood yang baik untuk tampil. Bukan hanya itu, karena tim yang sangat kecil, aku juga harus mengatur Lighting, Multimedia, Properti dan Sound, luar biasa, aku berharap bisa ilmu ninja yang membagi tubuh wakakaka~ Tetap tenang walau keadaan hectic benar-benar hanya karena Tuhan. Aku banyak digesek, phew, tapi juga banyak belajar :) sempat hilang kendali waktu audisi tapi puji Tuhan waktu final Tuhan benar-benar jaga fisik dan emosiku. Puji Tuhan tim final kali ini berjalan lancar dan aku bersyukur memiliki tim seperti mereka :D walaupun kalah telak =.= tahun depan harus lebih solid lagi! YOSH! Dapat banyak masukan juga dari juri yang salah satunya adalah Ko Philip! O_O ga nyangka loh! Beliau kan sibuk banget! Kesempatan yang langka! Hahahah~ Ga rugi deh masuk final walo kalah hahahhah~

Teaser Brochure
Untuk Drama Musikalnya...amazing! (aku udah bilang amazing berapa kali yah?) Wuih! This is the first time Youth mengadakan drama musikal :) Walau sempat mengalami masalah di LED dan Sound pada hari H overall berjalan sangat baik! Respon yang masuk juga bagus :) heheheh~ Aku belajar memberi yang terbaik sekecil apapun peranku dan...satu lagi, Tuhan mengizinkanku untuk menjadi dampak bagi banyak orang melalui drama ini :) heheheh~ Waktu itu aku cuman bisa menangis terharu ketika semua orang sibuk mempersiapkan segala sesuatu, aku terdiam di pojokan sejenak untuk melihat karyaNya dalam hidupku. Aku selalu berdoa untuk bisa memberi dampak bagi banyak orang lewat hal-hal yang aku lakukan dan tiba-tiba saja Tuhan memberikannya. That day, I stood amazed by His work. Sungguh bukan karena kuat gagahku aku bisa berjalan sejauh ini, dan semakin hari aku semakin sadar betapa tanganNya yang menuntunku, aku pun semakin rindu berbuah bagi Dia :) He is the most amazing God I ever seen!!! Tapi hari itu juga Tuhan berkata bahwa Dia belum selesai dan Dia akan membawa kita dari kemuliaan kepada kemuliaan yang lain. Ooh~ Can't wait what God will do next! :)

Benar-benar bulan yang luar biasa hahahah~ But yet, Dia tetap setia dan kasih karuniaNya selalu cukup :) Toh akhirnya bisa melewati bulan Agustus dengan hidup-hidup wakakakak~ Can't wait His next step and I pray I can catch His move XD hehehehe~ Kalau melihat beberapa cuplikan dari Drama musikalnya bisa liat foto-foto dibawah ini.



Tokoh Utamanya adalah Orin, seorang Suku Tanah yang tidak menyerah menggapai impian. Kalau mau lihat lebih banyak foto lagi bisa ke sini. Dia diperankan oleh Tim PAW, bukan drama karena dari tim Drama tidak ada yang lolos audisi vokal :p wakakakka~

So what next? Saat ini kita lagi nangani dua project drama :) yang pertama adalah Happy Ending, untuk event pengajaran tentang Pasangan Hidup dan persiapan untuk Natal bulan Desember lagi. Wait for the report (if the photo are avaliable :p ) :D Keep praying for revival and God touch many people with the creativity! God is in the move, are you?

Happy Ending Brochure
PS: My last post for this month! I fulfilled the target to post more in this month :D *yay!* I hope I can post more next month :) See you! Gbu! 

Read More

Senin, 17 September 2012

[Short Story] Before the Dawn


Click to go to the source
Aku mengayunkan pedangku sekali lagi dengan berat. Terdengar jeritan tertahan dari prajurit yang kehilangan nyawanya ditanganku.
Seratus….
Kuayunkan pedangku lagi dan nyawa kembali melayang.
Seratus satu…Aku menghitung….
Seratus dua….
Semakin banyak aku menghitung, semakin berat aku merasakan pedang ditanganku membebani. Aku melihat sekelilingku…. Hampir saja aku mengumpat, mereka banyak sekali! Prajurit demi prajurit datang seakan tak pernah habis tapi staminaku justru makin menipis. Napasku memburu dan pandanganku mengabur. Aku tak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan…. Mungkin ini adalah saat terakhirku….
Ah…seandainya aku ikut mundur seperti yang lain…pasti nasibku akan berbeda…. Aku tidak pernah menyesal berdiri disini walaupun sendiri. Tekadku bulat, aku tidak akan membiarkan siapapun merebut tanah nenek moyangku bahkan jika itu berarti aku harus bertarung sampai mati. Aku menggenggam pedang di tanganku lebih erat, aku tahu apa yang harus kulakukan.
Aku mengayunkan pedangku sekali lagi, menembus tubuh lawan.
Seratus tiga….
Tiba-tiba, sebuah serangan datang dari arah belakang, aku berbalik tapi tak sempat berbalik untuk menangkisnya! Kurasa ini saatnya….
Terdengar besi saling beradu. Sebuah pedang menahan laju serangan itu mengenaiku. Mataku terbelalak ketika kulihat siapa pemiliknya. Perasaan lega langsung mengalir dan sebuah senyum terlukis diwajahku.
“Kamu tidak apa-apa?” Tanyanya mengarahkan punggungnya ke punggungku, kami saling membelakangi mencegah musuh menyerang titik lemah kami. “Maaf, aku terlambat.”
“Tidak masalah.” Balasku. Semangatku kembali terpompa. Ohhh! Bersama orang ini aku sanggup mengatasi ratusan musuh lagi!
“Bagus!” Serunya. “Kita pertahankan tempat ini!”
Aku tersenyum lebar dan kembali mengayunkan pedangku dengan kekuatan baru. Aku hanya berpikir…bagaimana jadinya aku bila aku tidak bertemu dengan dia…. Ingatan demi ingatan melesat dalam benakku.
Seratus tiga puluh delapan….
Aku masih ingat ketika aku pertama kali bertemu dengannya di sebuah gua. Tatapan matanya yang tulus dan berani saat itu membuatku tertarik untuk mengikutinya. Tidak ada kebohongan dalam dirinya, membuatku yang sering dikecewakan orang merasa aman berada di dekatnya. Aku tak peduli bila ia buronan, dia adalah orang yang dapat diandalkan oleh siapapun.
Dua ratus lima puluh enam….
Waktu kami menghadapi seorang tuan tanah yang kejam, itu pertama kalinya aku melihatnya begitu marah. Dia marah karena kami dihina dan tak dibayar padahal kamilah yang menjaga seluruh kawanan ternak si tuan tanah. Kurasa dia marah bukan karena dirinya tak mendapat upah, tapi karena dia memikirkan wanita dan anak-anak kami yang tak jadi mendapat makanan. Waktu dia ingin membunuh tuan tanah itu, akulah yang maju paling depan untuk melakukannya. Hahaha~ Betapa mudahnya aku naik darah, untunglah istri orang itu menahan kami dan memberikan kami makanan. Dia tidak mempermasalahkan  lagi dan kembali pulang, sungguh seorang yang bijaksana.
Empat ratus tujuh puluh tiga….
Hmm, aku ingat, ketika dia menolak untuk membunuh bahkan ketika orang yang membuatnya menjadi buronan ada di depan matanya. Waktu itu aku tidak mengerti mengapa ia melakukannya tapi kemudian aku sadar bahwa itu adalah caranya menunjukkan penghormatan dan penundukan dirinya. Hal yang tak kumiliki saat itu….
Lima ratus enam puluh empat….
Aku tak ingin mengingat kebodohanku, tapi itulah yang kulakukan saat aku melihat kota tempat anak istriku rata dengan tanah. Putus asa, kecewa dan marah membuatku hampir melemparkan batu kepada dia yang telah begitu baik kepadaku. Betapa malunya diriku mengingat hal itu tapi justru saat itulah aku melihat betapa dia adalah orang yang sungguh-sungguh layak untuk diikuti. Dia tidak marah kepada kami tapi justru berseru kepada Allahnya dan kami mendapatkan kembali keluarga kami. Seandainya saat itu dia kehilangan ketenangannya…kami akan kehilangan segalanya.
Enam ratus tiga puluh delapan….
Sungguh aku berhutang segalanya pada dia…. Sejak peristiwa itu mataku semakin terbuka lebar dan akupun belajar untuk semakin mengasihinya. Jika dia benar-benar tulus mengasihiku yang sampah masyarakat, tidak ada alasan aku tidak mengasihinya dengan segala kualitas dalam dirinya. Ketika ia berkata ingin minum dari air sumur kota kelahirannya, tanpa pikir panjang aku langsung mencarinya walau harus menghadapi bahaya. Bersama kedua temanku, kami menembus barisan musuh dan tebak apa reaksinya ketika dia menerima air itu dari kami, dia justru mencurahkannya sebagai korban curahan bagi Tuhan! Saat itu aku tak dapat menahan air mataku. Itu hanya air biasa tapi dia menghargainya setara dengan darah! Dia memang layak menjadi raja!
Tujuh ratus dua puluh satu….
Seandainya aku tak pernah bertemu dia…. Seandainya dia tidak sabar menghadapiku…. Seandainya dia menyerah dan meninggalkanku…. Aku tidak akan pernah berdiri di tempat ini menjadi salah satu perwiranya. Selamanya aku adalah sampah masyarakat, terlilit hutang, penuh kebencian dan pecundang. Jika sekarang aku berdiri dengannya, akulah yang merasa terhormat dapat bertempur disisinya dan seumur hidupkupun aku akan mengikutinya….
Delapan ratus….
Musuh terakhir tumbang. Matahari sudah bergantung rendah di langit jingga. Aku tak lagi bisa merasakan tanganku. Kulihat dia sama lelahnya denganku, namun masih tetap memberikan sebuah senyum. Dia mengulurkan tangannya untuk membantuku melepaskan pedang yang melekat ditanganku.
“Kamu melakukan tugas dengan sangat baik, Eleazar anak Dodo….”
“Sebuah kehormatan bagiku untuk bertempur bersama engkau, ya Rajaku….” Jawabku lemah sebelum semuanya menjadi gelap….

*

Ini kubuat untuk lomba cerpen di gereja, tapi sayang, tadi pengumuman dan aku kalah... orz.... Daripada terbuang percuma hahahah~ aku posting di sini :) hope you enjoy it!

Gbu~
Read More

Jumat, 14 September 2012

To Be a Fool

Suatu ketika aku pernah berbicara dengan seseorang, kami banyak bertukar kata *halah!* FYI, dia Kristen dan dia adalah salah seorang yang cukup kudengarkan. Kami berbicara dan akhirnya menyentuh topik yang cukup sensitif, tentang giving yourself to God. Dia menyarankan aku untuk tidak terlalu terlibat pelayanan dan mulai membangun hidupku. Sebuah saran yang membuatku banyak berpikir dan terus berpikir sampai beberapa hari sesudahnya.

Satu hal yang paling membuatku sangat enjoy adalah pelayanan :) heheheh~ I feel like I can pour my everything to Him, my life, my skill, my time. Passionku ada di sana dan Tuhan terus menerus memproses karakterku lewat orang-orang yang terlibat di dalamnya. Banyak hal yang aku dapatkan selama aku diizinkan untuk bekerja di ladangnya sambil terus berdoa semakin banyak orang dimenangkan lewat segala hal yang bisa kulakukan. Aku tak terlalu bagus dalam penginjilan one on one D: I will sharing it next time heheheh~

Read More

Sabtu, 08 September 2012

[Short Story] The Mighty Warrior

Click to go to original site
Aku membuka helm besiku dengan segera, melemparkannya ke tanah hingga berdentang keras. Jantungku berdetak kencang dengan rasa takut dan cemas. Aku berdiri kaku, terbelalak memandangi kejadian di depanku. Teriakan-teriakan panik terdengar begitu jauh seperti aku tidak berada ditempat ini. Aku memang berharap aku tidak berdiri disini dan memandangi akibat dari perbuatanku....

"Cepat angkat dia kembali ke kastil!!!" Seru Ian, wakil komandan membuatku tersadar.

Mataku kembali melihat apa yang ada dihadapanku, kenyataan. Sang komandan terluka parah, aku dapat melihat goresan panjang membelah baju zirah dan merobek kulit dibawahnya, mengalirkan darah segar yang membasahi tanah, akibat ulahku.

"Jangan meleng, Prajurit!" Seru Ian sambil memandangiku sebelum dia berlari melewatiku.

Aku menoleh dan melihat yang selama ini terlupakan. Sesosok raksasa menyerigai kejam melihat kami, dia tampak puas melihat komandan kami tumbang. Pedang ditangannya berkilat tajam dengan noda darah di sepanjang bilahnya. Ian berlari dan melompat dengan sekuat tenaganya untuk menghujam tombaknya ke arah Raksasa. Beberapa prajurit lain memberi assist dengan menyerang bersama-sama dengan dia. Dari jauh aku dapat melihat Sarah membidik panahnya dan melepaskannya dengan cepat. Anak panah itu melesat memberi celah bagi Ian untuk menusuk Sang Raksasa.

Terdengar bunyi bedebum kasar. Raksasa itu jatuh tapi pertempuran masih jauh dari selesai. Ian mencabut tombaknya dari dada raksasa dan melihat bahwa komandan sudah dibawa menjauh dari arena peperangan.

"Cepat maju dan runtuhkan benteng mereka!!!" Serunya sambil mengangkat tombaknya tinggi-tinggi.

Para prajurit langsung berlari ke depan dengan teriakan perang, melewatiku yang masih terguncang....

"Apa yang kau lakukan, Prajurit?"

TIba-tiba saja Ian sudah berada di depanku, matanya yang tajam memandangku lurus, membuatku semakin menciut. Aku tak menjawabnya, tercekat. Aku dapat melihat alisnya makin berkerut, tanda tak sabar. Dia semakin tidak senang dan aku semakin gemetar. Ketegasannya mengintimidasiku.

"Mundurlah, jaga Komandan, lakukan sesuatu untuk akibat dari perbuatanmu." Ucapnya tegas seraya berbalik dan berlari menyusul prajurit lain.

Aku tak dapat berkata apapun. Aku terdiam dan seluruh dadaku sakit dililit oleh rasa bersalah yang dalam.

*
Seandainya, seandainya, seandainya....

Kata-kata itu mencengkram pikiranku dengan kuat. Aku tertunduk di sudut kamar Komandan, menjaganya selagi yang lain sedang berperang. Merasa bodoh? Ya. Tak berguna? Ya. Merasa gagal? Ya. Aku mengusap wajah dengan frustrasi. Kuangkat kepalaku melihat Komandan sedang tertidur di ujung ruangan yang bersebrangan. Keadaannya stabil, para Healer sudah mendoakan dan menyembuhkan lukanya. Aku bersyukur lukanya tidak fatal tapi tetap saja, dia tidak akan terkapar di sana jika bukan karena ulahku. Ugh...mengingat hal itu lagi membuatku ingin membenturkan kepalaku ke tembok kastil.

Aku baru beberapa bulan tergabung dalam kesatuan ini. Sudah lama sekali aku ingin menjadi prajurit, bertarung di medan perang, membawa kemenangan bagi Sang Raja. Ketika aku tahu aku ditempatkan dibawah pimpinan Ariokh, aku langsung melonjak gembira. Dia adalah salah satu prajurit terhebat yang dimiliki Kerajaan, dia selalu membawa kemenangan bagi kami. Saat itu aku merasa aku sanggup mengangkat pedangku tinggi-tinggi dan membawa kemenangan gemilang bagi Kerajaan tapi sekarang aku merasa aku berada di jurang terdalam....

Aku kembali mengusap wajahku. Aku mengacaukan semuanya.

Terdengar suara tertahan, aku segera mengangkat wajah, Sang Komandan telah bangun. Aku menghampirinya dengan enggan, aku takut, kata pertama yang diucapkannya adalah memecatku. Aku melihat ia membuka matanya dengan pelan lalu menggerakkan kepalanya ke samping dan melihatku.

"Fahren?" Tanyanya pelan, berusaha mengumpulkan kesadarannya.

Aku mengangguk pelan.

Dia menggeram pelan, menahan sakit. "Ugh...untunglah kamu baik-baik saja." Ucapnya sambil tersenyum lemah membuatku terkejut.

Dia....tidak marah?

"Bagaimana dengan pertempurannya? Apakah kita menang?"

Aku tak sempat menjawab, terdengar ketukan pintu. Sang Komandan memberiku tanda untuk membukanya, dan Wakil Komandan Ian muncul di balik pintu. Wajahnya kaku, membuatku mundur selangkah, entah mengapa aku selalu takut dengan dia.

"Lapor, Komandan." Ucap Ian sambil memberi hormat. "Kita menang. Benteng musuh sudah jatuh dan kita mendapat banyak jarahan. Seluruh tawanan telah berhasil diselamatkan."

Sang Komandan bernapas lega, "Terpujilah nama Raja. Ian, tolong antar Fahren untuk beristirahat."

"Tapi Komandan...." Aku berusaha membantah.

Komandan menggeleng pelan. "Kamu pasti belum sempat beristirahat sejak kamu datang kemari 'kan? Aku sudah tidak apa-apa."

Aku masih keberatan tapi Ian sudah menggiringku keluar kamar. Begitu pintu kamar tertutup, dia berjalan di depan, memimpin.

Kami melewati lorong-lorong kastil dalam diam. Sinar lemah matahari menyirami jendela-jendela memberikan sebercak warna keemasan pada batu hitam. Beberapa kali aku memandang Ian dengan sudut mataku. Berbeda dengan Komandan, Wakil Komandan yang satu ini tegas dan sangat menakutkan. Aku bertanya-tanya, apakah dia marah dengan tindakan sembronoku tadi....

"Fahren." Ucap Ian membuatku nyaris terlonjak. Dia berhenti, berbalik memandangku. Aku menciut. Rasanya ingin lari sejauh mungkin.

"A-pa?" Balasku berusaha untuk tidak terlihat menantang, gugup, aku tidak ingin membuatnya lebih marah.

"Kamu lihat bekas luka di badan Komandan?" Tanyanya.

Aku memandangnya heran, tidak mengerti mengapa dia tiba-tiba bertanya hal tersebut. Aku terdiam, namun Ian terus memandangku meminta jawaban membuatku memaksa otakku untuk mengingat. Ya...aku ingat, aku dapat melihat bekas luka memanjang dari lengan ke telapak tangan tersembunyi di balik kain bajunya tapi aku tetap tidak yakin, apa itu memang benar atau hanya imajinasiku.

Dengan ragu aku mengangguk pelan. Tegang, bagaimana kalau jawabanku salah. Aku tidak ingin kehilangan pekerjaanku, pekerjaan yang sudah aku inginkan sejak pertama kali aku melihat pawai kemenangan lima belas tahun lalu.

"Luka ditangannya, itu ulahku." Ucap Ian, mengalihkan pandangnya ke arah matahari.

Aku terbelalak, tidak menyangka mendengar Ian bercerita dan lebih tidak menyangka lagi Ian pernah melakukan kesalahan yang sama.

"Lima tahun lalu, aku tidak mendengarkan perintah dan menyerang sendirian," lanjutnya, pandangannya menerawang, "perhitunganku salah, monster yang kuhadapi jauh lebih kuat dari aku. Di saat aku sudah pasrah dan siap dihabisi, Komandan datang. Dia mengalahkan monster itu walau harus kehilangan banyak darah dan nyaris meninggal...."

Aku terpana. Ian tersenyum.

"Aku tahu kesalahanmu fatal hari ini dan apapun yang terjadi jangan ulangi, tapi jangan merasa gagal. Tidak ada orang yang menyalahkanmu." Lanjut Ian seraya kembali berjalan, aku mengikutinya di belakang. Diam, tidak menyangka keadaannya akan menjadi seperti ini.

Aku dapat melihat pintu kamarku beberapa meter di depan.

"Adalah tugas seorang pemimpin untuk menahan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh prajurit-prajuritnya." Ian berbicara sambil membuka pintu kamarku, mempersilakan aku masuk.

"Suatu ketika, baik aku maupun kamu, akan melakukan hal yang sama untuk setiap orang yang kita pimpin. Menanggung kesalahan dan kelemahan mereka." Lanjutnya, tersenyum, lalu menutup pintu kamar.

Aku terdiam, memandangi pintu kayu yang tertutup di depanku. Kata-kata terakhir Ian menggema dalam kepalaku.


End
_____________________________________________
Ibrani 13:17 Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu,  sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.

Jadi teringat ayat itu. Ada sebuah perkataan yang membuatku menahan diri jika aku sudah mulai tidak puas dengan pemimpinku.

"Jika musuh memanahkan sepuluh panah api, delapan di antaranya sudah mengenai pemimpinmu terlebih dahulu."

Pemimpin adalah orang yang menanggung kelemahan kita dengan sukarela, mendoakan kita dan terus menabur bafi hidup kita. Jika kita merasa mereka tidak mengerti kita, ingat bahwa mereka sudah mengalami hal-hal yang lebih berat daripada kita. Let's take time to give thanks, pray, and support them. I'm so proud to have so many mighty Warrior who fight gallantly beside me. Thank you for your sacrifice for us.

_____________________________________________

PS: Mencoba layout baru untuk blogku, masih agak kacau karena aku ga seberapa ngerti CSS, kalau ada yang bisa bantu bisa drop komen di sini heheheh~ aku  pribadi lebih suka yang ini, karena lebih clean and a bit girly (udah tobat LOL) Gimana menurut kalian??? :D
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

© Everything But Ordinary, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena