Rabu, 28 Agustus 2013

[Short Story] Waiting....


"Hei!" Sebuah suara menyapa dengan riang di ujung sambungan. "Sudah lihat cover terbaru majalah 'Couture'?"

Aku tersenyum. Mataku tak lepas dari sampul majalah dihadapanku, sebuah foto low-key yang dramatis menampilkan sesosok gadis memandang dengan misterius. Wajah gadis itu unik, tulang pipi yang tinggi, bibir yang penuh dan mata yang bulat. Rambutnya yang berwarna hitam legam disanggul dan dihiasi oleh ornamen klasik dari logam. Tatapanku melembut ketika menjelajahi halaman depan majalah high fashion tersebut.

"Xion? Kamu dengar aku kan?"

"Ya, ya, aku dengar" Balasku terus tersenyum, sebuah rasa rindu yang hangat menggeliat dalam dadaku. "Majalahnya sudah kulihat."

"Gimana menurutmu?"

"Cantik." Jawabku tulus. "Apalagi yang bisa kukatakan?"

Sunyi, tapi aku tahu dia sedang tersenyum lebar di sana, mungkin dengan sedikit rona merah di pipinya.

"Jadi," sambungku, "kapan kamu akan kembali?"

"Mmm...jumat aku sudah tiba di New York. Kurasa kita bisa pergi weekend ini." Lanjutnya sambil tertawa kecil. "Ga terasa ya, udah sebulan kita ga ngopi bareng."

Giliran aku yang melebarkan senyumku. Sebulan lebih dua hari. Aku menghitung setiap detik ketiadaannya disampingku.

"So," dia membuyarkan lamunanku, "Sabtu, jam lima di kafe biasa. Gimana?"

Aku mengangkat alisku. Tawaran yang menarik sekali tapi aku punya rencana lain.

"Bagaimana kalau begini, berdandanlah, pakai gaun terbaikmu, jam enam sore akan kujemput kamu di apartemenmu. Aku akan membawamu ke restauran itali yang baru buka minggu lalu."

"Eh?!" Serunya kaget.

"Well, kurasa aku perlu menyiapkan sesuatu untuk merayakan kontrakmu dengan salah satu majalah fashion terbesar." Ucapku seraya tersenyum lebar. "My treat, ok?"

Aku merasakan keraguan dalam kesunyian yang menggantung. Jantungku berdetak keras dalam dadaku menanti jawabannya.

"Emmm, baiklah. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu." Jawabnya, aku langsung mengambil napas lega. "Okay then, see you at weekend. Titip salam untuk Helio ya, bilang aku sudah menyiapkan oleh-oleh untuknya.."

"Bye." Ucapku seraya tersenyum lebar dan mematikan sambungan telepon. Hatiku melonjak dengan perasaan gembira.

Aku berdiri dan menoleh, memandangi seorang pemuda berambut pirang yang sedang asik mengetik di laptopnya. Sebisa mungkin aku berusaha untuk tetap tenang, tapi....

"Biar kuduga, kau berhasil mengajaknya kencan." Ucap pemuda itu datar tanpa memalingkan tatapannya dari layar komputer. Dia membacaku....

Aku tersenyum sangat lebar memandangi sahabatku sejak kecil. Tanganku merogoh sebuah kotak panjang dari saku celanaku dan membukanya.

"Bagaimana menurutmu, Lio?" Tanyaku seraya menyodorkan kotak itu padanya.

Dia mengalihkan tatapannya dari layar komputer, awalnya tampak tidak tertarik namun ketika dia melihat apa yang ada di dalam kotak panjang itu, ekspresi wajahnya yang biasanya datar itu berubah. Aku dapat membaca keterkejutan di wajahnya.

"Apa yang akan kau lakukan?" Tanyanya seraya menatapku.

"Aku akan memintanya menjadi kekasihku." Jawabku dengan hati-hati.  Entah mengapa aku merasa sebuah ketegangan di matanya tapi ketika aku hendak memastikannya, pandangan Helio sudah beralih kepada layar komputer, raut wajahnya kembali datar seperti biasa.

"Good luck." Ucapnya dengan sebuah senyum tipis. Aku tahu, itu adalah caranya mendukungku.

"Thanks." Balasku seraya memandangi benda berkilau itu, sebuah kalung dengan liontin sederhana. Aku menyentuh kristal swarovski dengan lembut. Tiba-tiba sebuah keraguan muncul di hatiku.

"Lio, menurutmu...apakah aku terlalu cepat?"

"Untuk?" Balasnya datar, tetap memandangi indeks bursa saham di hadapannya.

"Untuk memintanya menjadi pacarku."

Alis Helio berkerut kecil. "Apa yang membuatmu merasa demikian?"

Aku menutup kotak itu dengan gelisah. "Kamu tahu, umurnya baru 16 tahun, apa tidak terlalu cepat?"

Helio terdiam. Aku juga. Hanya ada dengung pendingin ruangan yang mengisi kesunyian.

"Dia menyukaimu, Xion." Ucap Helio pada akhirnya. Dia mengira aku takut ditolak.

Aku tersenyum lemah, menghargai usaha Helio menghiburku.

"Thanks, Lio." Balasku lirih. Aku mengambil napas dalam. "Aku hanya tidak ingin menjadi penghalangnya untuk menggapai yang terbaik dalam hidupnya...."

Helio menoleh dan menatapku dengan tatapan ganjil.

Aku hanya tersenyum kecil melihat ekspresinya. "Aku tidak ingin mengambil waktu-waktunya yang berharga dalam mengejar impiannya...."

"Kau aneh." Ucapnya terus menatapku tajam. "Aku belum pernah mendengar seseorang yang berpikir sepertimu."

Aku hanya mengangkat alisku.

"Kalau aku, aku pasti akan sesegera mungkin memintanya menjadi kekasihku." Lanjutnya seraya kembali menatap monitor. "Apa kau tidak berpikir kemungkinan bahwa ada orang lain yang mendahuluimu?"

"Aku tahu." Balasku tersenyum lemah. "Kurasa aku hanya gugup. Maaf membuatmu bingung."

"No prob." Balas Helio tanpa menoleh.

*

Aku duduk berhadapan dengannya. Hari ini dia memakai sebuah gaun tanpa lengan berwarna merah marun dengan aksen pita dibagian dada, sapuan make up tipis tidak membuatnya kalah cantik dengan penampilan glamornya di sampul majalah. Yah, bagiku dia memang selalu menjadi wanita tercantik. Makanan sudah selesai dihidangkan, kini tinggal waktunya untuk bertukar cerita.

"Jadi, apa yang ingin kamu ceritakan" Tanyaku setelah seorang pelayan menuangkan champagne ke gelas kami. Aku merogoh sakuku, aku merasakan kotak perhiasan itu masih ada di sana. Jantungku berdegup kencang kusamarkan dengan sebuah senyuman lembut diwajah. Celaka, ternyata ini tidak semudah yang kubayangkan.

Dia tersenyum jenaka, matanya yang cerdas berkilat membuatku menduga dia akan menceritakan hal yang luar biasa.

"Aku baru saja mendapatkan kontrak dari rumah mode Julie Delacroix." Ucapnya dramatis.

Aku ternganga. Seluruh dunia mengenal nama itu. Sebuah nama yang memimpin pergerakan mode untuk berbagai macam line busana, mulai dari busana resmi sampai busana pesta. Setiap desainnya berkesan simpel namun elegan.

"A-apa?" Aku hanya dapat mengucapkan kata itu.

Senyumnya melebar, menampilkan sederet gigi putih yang rapi.

"Xion, aku mendapatkan kontrak menjadi model mereka selama fall/winter." Ulangnya dengan penuh semangat. "Aku akan tampil bersama model-model ternama lainnya di catwalk! Bisa kamu bayangkan?!"

Aku melihat matanya berbinar penuh dengan kebahagian. Sama sepertinya, aku dapat melihat masa depan apa yang terbentang luas dihadapan gadis belia yang kucintai itu. Masa depan yang tak terbatas yang terlalu dini untuk ditahan.

Perlahan, aku menyunggingkan sebuah senyum. Dia akan melihat senyum itu sebagai senyum penuh dukungan seperti biasanya tanpa menyadari betapa besar hal yang harus kusembunyikan. Aku menarik tanganku dari kotak yang akan kuberikan kepadanya.

Dia kembali bercerita tentang bagaimana dia bisa mendapatkan kontrak tersebut. Champagne dalam gelas tergeletak tanpa satupun diantara kami yang tertarik. Aku memandanginya dengan lekat sambil tersenyum. Aku tahu betapa aku mencintai gadis ini, aku terlalu mencintainya untuk membiarkan egoku menguasai masa depannya.

"Apa kau tidak berpikir kemungkinan bahwa ada orang lain yang mendahuluimu?"

Ucapan Helio terngiang membuat rasa takut menjalari naluriku. Aku menarik napas pelan. Aku akan ambil resiko itu. Kotak itu, pasti akan kuberikan padanya, ketika dia sudah puas terbang menjelajahi angkasa masa depan. Aku akan disini, menjadi tempatnya untuk kembali pulang....

End

_______________________________________________________

Akhirnya kelar juga nih cerita. Mungkin ini adalah salah satu cerita yang mengendap paling lama di draft wakakakkaka~ Been hectic lately :) I hope I can share what happen soon :D

Btw, aku akan post pemikiran yang mendasari cerita ini di postingan berikutnya *semoga* :p well, just enjoy this short story for a while ;)

Have a blessed day :D

0 comments:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

© Everything But Ordinary, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena